Laporan dari Wall Street Journal mengungkap tuntutan Iran yang cukup berat. Negeri itu disebut menetapkan standar tinggi untuk pembicaraan gencatan senjata. Apa isinya? Di antaranya, penutupan semua pangkalan militer Amerika di Teluk. Tak cuma itu, mereka juga menginginkan sistem pengumpulan biaya dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Namun begitu, kabar penolakan langsung datang dari Teheran. Kantor Berita Fars, pada Rabu lalu, secara tegas menyatakan Iran tidak menerima proposal gencatan senjata. Poinnya jelas: mereka menginginkan pengakhiran perang secara total, bukan sekadar jeda sementara. "Perang harus benar-benar berakhir," begitu kira-kira semangat pernyataan itu.
Saluran Press TV Iran kemudian membeberkan lebih detail. Negara itu, menurut laporan mereka, takkan membiarkan Amerika Serikat yang menentukan waktu berakhirnya konflik. Lewat kantor berita milik pemerintah itu, seorang pejabat menguraikan lima tuntutan kunci Teheran. Isinya meliputi penghentian semua serangan, serta yang tak kalah penting: pengakuan dan jaminan internasional atas hak Iran untuk menjalankan otoritasnya di Selat Hormuz yang strategis itu.
Di tengah riuhnya klaim dari pihak Iran, respons AS justru terasa lebih dingin. Seorang pejabat Amerika yang dikutip Axios menyatakan, Washington belum menerima pesan resmi apa pun dari Iran yang menolak proposal gencatan senjata. Seolah ada kesenjangan informasi antara apa yang dikabarkan media dan komunikasi resmi antar pemerintah.
Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, semakin mengukuhkan jarak itu.
Artikel Terkait
Arus Balik Lebaran 2026: Kedatangan Penumpang di Stasiun Jakarta Capai 52.471 Orang
OJK Prediksi Dua hingga Tiga Bank Naik Kelas ke KBMI 4 pada 2026
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts and Nevis, Beckham Putra Siap Perjuangkan Tempat
Marshanda Dukung Proses Pencarian Jati Diri Putrinya Lepas Hijab