Namun begitu, Airlangga menegaskan bahwa kebijakan ini tidak kaku. Sifatnya fleksibel dan akan selalu disesuaikan dengan dinamika harga energi di pasar global. Jadi, ada ruang untuk evaluasi.
Di sisi lain, manfaat WFH ternyata tidak cuma soal penghematan BBM. Purbaya menambahkan, kebijakan ini juga bisa meringankan beban biaya transportasi para pekerja. Uang yang biasanya habis untuk perjalanan, bisa dialihkan untuk kebutuhan lain yang lebih penting. Alhasil, daya beli masyarakat diharapkan bisa terdongkrak.
"Ekonomi aktifnya naik, bisnis naik cepat, konsumsi naik. Kalau ekonomi yang betul, didorong di sini, yang di sana gerak semua,"
tambahnya dengan penuh semangat.
Lalu, hari apa yang paling mungkin dipilih? Tampaknya Jumat menjadi opsi yang paling tepat. Alasannya cukup logis.
"Jumat kan paling pendek jam kerjanya. Jadi loss ke produktivitas dianggap paling kecil,"
pungkas Purbaya. Dengan jam kerja yang lebih singkat, potensi hilangnya produktivitas bisa diminimalisir. Sementara itu, penghematan biaya perjalanan justru akan terasa lebih besar. Sebuah pertimbangan yang tampaknya sudah dipikirkan matang.
Artikel Terkait
Arus Balik Lebaran 2026: Kedatangan Penumpang di Stasiun Jakarta Capai 52.471 Orang
OJK Prediksi Dua hingga Tiga Bank Naik Kelas ke KBMI 4 pada 2026
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts and Nevis, Beckham Putra Siap Perjuangkan Tempat
Marshanda Dukung Proses Pencarian Jati Diri Putrinya Lepas Hijab