Presiden Iran mengungkapkan, dalam setahun terakhir negaranya telah menjadi sasaran dua kali agresi dari AS dan Israel. Yang lebih memilukan, di hari-hari menjelang perayaan, dunia justru menyaksikan kejahatan yang terus berlanjut. Aksi-aksi itu mencakup pembunuhan warga sipil dan anak-anak, tak luput juga pengeboman terhadap fasilitas krusial seperti rumah sakit dan situs bersejarah.
Dengan nada teguh, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tak akan gentar. "Iran membela tanah air kunonya dengan keberanian luar biasa. Kami berharap pemerintah negara-negara Muslim tidak tinggal diam terhadap pelanggaran hukum tanpa pandang bulu dan ketidakadilan historis ini," tegasnya.
Eskalasi konflik ini sendiri sudah memanas sejak akhir Februari lalu. Tepatnya pada 28 Februari, AS dan Israel disebut memulai babak baru serangan udara. Ini terjadi sekitar delapan bulan setelah serangan pertama yang dianggap Iran tanpa provokasi.
Sebagai bentuk pembalasan, Iran tak tinggal diam. Mereka telah melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke wilayah yang diduduki Israel. Tidak hanya itu, sejumlah pangkalan dan kepentingan AS di kawasan regional juga menjadi target. Semua ini dilakukan Teheran sebagai respons atas agresi yang mereka terima.
Kini, situasi di perbatasan dan wilayah udara Iran dilaporkan masih sangat mencekam. Level ketegangan berada di titik tertinggi, memicu kekhawatiran banyak pihak. Ancaman perang skala besar di Timur Tengah sepertinya bukan lagi sekadar bayangan, tapi sebuah kemungkinan yang semakin nyata dan mengkhawatirkan.
Artikel Terkait
Na Willa Tembus 334 Ribu Penonton, Berpotensi Lanjutkan Kesuksesan Jumbo
Arus Balik Lebaran 2026: Tiket KAI Ludes 96,5%, Okupansi Lampaui 150%
Meta Didenda Rp 6,3 Triliun Atas Pembahayaan Kesehatan Mental Anak
Kapolri Perintahkan Antisipasi Cuaca Ekstrem di Jalur Penyeberangan Saat Arus Balik Lebaran