Survei: Mayoritas Warga Jerman Khawatir Tak Mampu Tampung Pengungsi Baru

- Rabu, 25 Maret 2026 | 14:20 WIB
Survei: Mayoritas Warga Jerman Khawatir Tak Mampu Tampung Pengungsi Baru

Ketegangan antara AS, Israel, dan Iran yang terus memanas tak cuma jadi urusan geopolitik. Di Jerman, situasi ini memicu kekhawatiran lain: akankah muncul gelombang pengungsi baru yang harus mereka tangani?

Ragu-ragu itu ternyata sangat kuat di tengah publik. Sebuah survei yang digelar Forsa untuk majalah Stern dan RTL menyodorkan angka yang cukup mencengangkan. Dari seribu responden, 73% menyatakan Jerman sudah tak sanggup lagi menampung lebih banyak pengungsi. Suara skeptis ini bergema di hampir semua kalangan.

Di sisi politik, keraguan itu bahkan lebih kentara. Sebanyak 80% pendukung partai CDU/CSU khawatir negara tak akan mampu mengatasi. Hampir seluruh pendukung AfD, partai kanan konservatif yang gencar dengan agenda anti-migrasi, setuju angkanya mencapai 98%.

Hanya pendukung Partai Hijau yang tampak lebih tenang. Menurut survei yang sama, mereka tak melihat masalah besar jika ada tambahan pengungsi yang masuk.

Perdebatan ini muncul di tengah eskalasi konflik dan represi rezim Iran terhadap warganya sendiri. Banyak yang bertanya-tanya: mungkinkah Eropa, khususnya Jerman, akan menghadapi arus pengungsi baru dari kawasan itu?

Andre Berghegger, kepala Asosiasi Kota dan Pemerintah Daerah Jerman, punya pandangan jelas. Dalam wawancaranya dengan Augsburger Allgemeine, ia menekankan pentingnya kesiapan.

"Peristiwa perang seperti yang baru-baru ini terjadi di Iran menunjukkan bahwa Jerman dan Eropa harus mempersiapkan diri dalam kebijakan pengungsi dan bertindak secara terkoordinasi," ujarnya.

Memang, belum ada yang bisa memastikan apakah perang bakal memicu lonjakan pengungsi ke Eropa. Tapi Berghegger bersikeras, persiapan harus dimulai dari sekarang.

"Pada saat yang sama, kita juga harus menyediakan akomodasi dan pusat penerimaan di Jerman yang dapat segera diaktifkan jika terjadi peningkatan jumlah, meskipun saat ini belum terlihat," katanya.

Ia menegaskan, pemerintah federal harus menanggung seratus persen biaya untuk kesiapan ini. "Kota dan pemerintah daerah tidak boleh menanggung sendiri biaya dan koordinasi persiapan."

Laporan dari lapangan juga mengkhawatirkan. Mark Ankerstein, Direktur Jerman untuk bantuan pengungsi PBB, menyebut pergerakan pengungsi telah melonjak tajam sejak perang dimulai.

"Menurut perkiraan sementara, jumlah pengungsi internal di kawasan telah mencapai 4,1 juta, lebih dari 800.000 di antaranya berada di Lebanon," jelasnya. "Jika infrastruktur sipil semakin terdampak, jumlahnya kemungkinan akan meningkat."

Benarkah Akan Ada Gelombang ke Eropa?

Namun begitu, tidak semua analis sepakat bahwa Jerman akan kebanjiran pengungsi Iran. Gerald Knaus, peneliti migrasi yang cukup dikenal, justru punya pandangan berbeda.

"Bahkan jika perang di Iran meningkat atau rezim runtuh, saat ini kecil kemungkinan banyak orang akan melarikan diri ke Eropa," katanya. Pengalaman beberapa tahun terakhir, menurutnya, menunjukkan pola yang konsisten: konflik di Timur Tengah biasanya berujung pada perpindahan internal atau ke negara tetangga.

"Karena banyak negara di kawasan telah memperketat perbatasannya, saat ini tidak ada jalur pelarian yang realistis menuju Eropa," tambah Knaus.

Fokusnya, katanya, harusnya pada situasi kemanusiaan di dalam Iran itu sendiri. "Meskipun jumlah pengungsi sedikit, tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya di dalam negeri, bisa jadi mereka terjebak dalam bencana kemanusiaan."

Ia mengambil contoh Gaza dan Lebanon. Di sana, krisis kemanusiaan besar-besaran terjadi, tapi hanya segelintir orang yang berhasil mencapai Eropa. Ditambah lagi, pendanaan global untuk organisasi bantuan terus merosot situasi yang memperparah keadaan.

Diaspora yang Sudah Berakar

Jerman sendiri bukanlah tempat asing bagi warga Iran. Negeri ini menampung diaspora Iran terbesar di Eropa, sekitar 319.000 orang. Sekitar 128.000 di antaranya sudah menjadi warga negara Jerman.

Pengalaman Jerman menangani pengungsi memang panjang. Gelombang terbesar terjadi pada 2015–2016, ketika lebih dari satu juta pencari suaka dari Suriah, Irak, dan Afghanistan tiba. Belum lagi gelombang warga Ukraina pasca-invasi Rusia tahun 2022.

Data UNHCR menunjukkan, pada akhir 2025, porsi pengungsi Iran yang tinggal di Jerman mencapai 29%, tertinggi di antara negara tujuan lain seperti Inggris (26%) atau Kanada (8%). Untuk pengungsi Lebanon, Jerman juga di posisi puncak dengan 34%.

Jadi, meski kekhawatiran publik tinggi dan para pejabat sibuk bersiap-siap, masa depan sebenarnya masih kabur. Akankah gelombang itu benar-benar datang? Ataukah ketakutan itu lebih merupakan bayang-bayang dari pengalaman masa lalu? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar