Mudik Lebaran bukan cuma soal pulang kampung. Bagi perekonomian nasional, tradisi tahunan ini ibarat suntikan adrenalin yang ditunggu-tunggu. Haryo Limanseto, Juru Bicara Kemenko Perekonomian, terlihat optimis. Menurutnya, momentum ini punya daya dorong luar biasa untuk aktivitas ekonomi di Tanah Air.
Dia punya dasarnya. Data historis menunjukkan, konsumsi rumah tangga bisa melonjak 15 sampai 20 persen dibanding bulan-bulan biasa. Masyarakat bergerak, uang pun berputar lebih cepat. “Tingginya Marginal Propensity to Consume (MPC) masyarakat Indonesia pada periode ini turut memperkuat dorongan konsumsi, termasuk peningkatan pendapatan pelaku UMKM daerah hingga 50–70 persen,” jelas Haryo dalam keterangan tertulis, Senin (23/3/2026).
Secara empiris, klaimnya punya bukti. Kajian BPS di 2023 mencatat, aktivitas mudik menyumbang sekitar 1,5 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan. Angka yang tidak main-main.
Bagaimana bisa? Intinya, terjadi redistribusi aliran uang. Dana dari pusat-pusat ekonomi seperti Jakarta mengalir deras ke berbagai daerah. Uang yang biasanya berputar-putar di kota besar, tiba-tiba menyebar ke warung-warung di pinggir jalan, penginapan kecil, dan pedagang oleh-oleh di kampung. Dampaknya jadi lebih merata.
“Setiap pengeluaran pemudik menciptakan efek pengganda yang memberikan dampak berlapis bagi pelaku ekonomi, termasuk UMKM, pedagang, dan sektor jasa transportasi,” kata Haryo lagi.
Nah, untuk Idulfitri 2026 ini, proyeksinya malah lebih cerah. Pemerintah menatap angka pertumbuhan ekonomi tahunan 5,5-5,6 persen, dan mudik diharapkan jadi salah satu penopangnya. Tahun lalu, pergerakan masyarakat mencapai 154,62 juta orang. Tahun ini, diharapkan bisa lebih ramai lagi, dengan belanja yang tentunya ikut naik.
Optimisme ini bukan tanpa alasan. Pemerintah sudah menyiapkan berbagai stimulus. Ada alokasi fiskal lebih dari Rp12,8 triliun, bansos senilai Rp11,92 triliun untuk 5,04 juta keluarga, plus diskon tarif transportasi hampir Rp1 triliun. Dengan kontribusi konsumsi rumah tangga yang mencapai lebih dari separuh PDB, langkah-langkah ini diharapkan bisa langsung terasa dampaknya.
Sebenarnya, upaya mendorong ekonomi lewat mudik ini sudah jadi kebijakan tahunan. Pemerintah punya beberapa jurus andalan. Mulai dari diskon tiket transportasi yang disubsidi, penangguhan PPN 6 persen untuk tiket pesawat yang tahun 2025 berhasil turunkan harga tiket hingga 14 persen sampai penurunan biaya kebandaraan dan avtur di puluhan bandara.
Ada juga program Mudik Gratis dan yang tak kalah menarik: kebijakan Work From Anywhere (WFA) bagi ASN sejak 2022. Ini bukan sekadar buat ngurai macet, lho.
Dengan WFA, para pemudik bisa lebih lama di kampung halaman. Mereka tetap kerja dan terima gaji penuh, tapi punya waktu luang lebih banyak untuk berbelanja dan menghidupkan ekonomi lokal. Durasi tinggal yang lebih panjang berarti perputaran uang juga lebih kuat.
Di sisi lain, situasi global memang tidak ringan. Ada ketegangan di Timur Tengah antara Iran, Israel, dan AS yang bisa bikin resah. Tapi Haryo meyakini fundamental ekonomi domestik masih kuat. Komitmen pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM juga disebutnya sebagai faktor penting menjaga daya beli.
“Jadi untuk Idulfitri tahun ini diprediksi kita optimis ekonomi bisa lebih baik dari tahun sebelumnya,” pungkasnya.
Jadi, siap-siap saja. Gelombang pemudik yang sebentar lagi bergerak bukan cuma membawa rindu, tapi juga harapan baru untuk perekonomian di pelosok negeri.
Artikel Terkait
Beckham Putra Percaya Diri Hadapi Persija, Kemenangan atas PSIM Jadi Modal Berharga Persib
15 Juta Penduduk Usia Produktif Belum Punya Rekening Bank, LPS Genjot Literasi Keuangan
Setelah 20 Kali Gagal, Perempuan Pematangsiantar Akhirnya Raih Beasiswa LPDP ke King’s College London
JK Marah Besar Dituduh Nistakan Agama Kristen, 40 Ormas Laporkan Ade Armando Cs ke Bareskrim