Klausul itu, menurutnya, adalah keistimewaan. Ia mengklaim fasilitas seperti ini jarang diberikan AS ke negara mitra lainnya. “Setahu saya, klausul seperti ini tidak ada dalam perjanjian dengan negara lain,” katanya.
Di sisi lain, Prabowo juga melihat manfaat nyata yang sudah di depan mata. Sebanyak 1.819 komoditas strategis Indonesia kopi dan minyak sawit termasuk di dalamnya kini dapat tarif nol persen untuk masuk ke pasar AS. Angka yang cukup signifikan.
“Tentu ini menguntungkan,” ucapnya mengenai realisasi tersebut.
Lalu, bagaimana dengan langkah Malaysia yang membatalkan perjanjian serupa? Prabowo memilih bersikap tenang. Pemerintah Indonesia, jelas dia, akan tetap rasional dan berpegang pada prinsip dasar: mencari keuntungan untuk bangsa.
“Kita pasti mencari yang menguntungkan, bukan sebaliknya,” pungkasnya singkat.
Jadi, intinya jelas. Setiap keputusan akan diukur dengan neraca kepentingan nasional. Klausul penyesuaian jadi jaminan fleksibilitas, sementara akses tarif nol untuk ribuan komoditas adalah buah yang langsung bisa dipetik. Semuanya berjalan dengan satu kompas: keuntungan Indonesia.
Artikel Terkait
124 Perusahaan Angkutan Baru Kena Sanksi karena Langgar Larangan Truk Saat Mudik
Produksi Grasberg Block Cave Freeport Diprediksi Normal dalam 2-3 Minggu
Lebaran 2026: 2 Juta Kendaraan Sudah Keluar Jabotabek, Trans Jawa Jadi Primadona
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Kecuali untuk Kapal Musuh