Pasar saham Asia dibuka dengan suram hari Senin (23/3/2026). Sentimen investor langsung ambruk, dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Aksi jual pun berlangsung hampir merata di seluruh kawasan.
Ultimatum keras dari Presiden AS Donald Trump kepada Iran jadi pemicu utamanya. Trump memberi tenggat waktu 48 jam kepada Teheran untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Ancaman AS? Mereka siap menyerang infrastruktur energi vital Iran jika ultimatum itu diabaikan.
Respon Iran tak kalah keras. Mereka balik mengancam akan menyerang fasilitas energi dan air di Timur Tengah. Bahkan, ada peringatan untuk menutup total Selat Hormuz jika tekanan dari Barat terus berlanjut. Konflik yang sudah berjalan hampir sebulan ini sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda mereda. Malah, laporan-laporan serangan lanjutan di Iran dan Israel masih terus bermunculan.
Akibatnya, investor berbondong-bondong keluar dari aset berisiko. Mereka mencari tempat yang lebih aman. Situasi ini langsung terasa dampaknya di lantai bursa.
Jepang dan Korea Selatan termasuk yang paling terpukul. Indeks Nikkei 225 dan TOPIX di Tokyo anjlok, kehilangan nilai antara 2,8 hingga 3,5 persen. Tapi kondisi di Seoul lebih parah lagi. Indeks KOSPI terperosok hampir 5 persen, mencatatkan diri sebagai salah satu performa terburuk di Asia hari itu.
Tekanan pada Korea Selatan ternyata bukan cuma dari geopolitik. Ada faktor internal yang turut membebani psikologi pasar. Penunjukan Shin Hyun-seong sebagai Gubernur baru bank sentral setempat rupanya bikin investor khawatir. Beberapa pernyataan Shin di masa lalu dinilai terlalu 'hawkish', terutama soal inflasi dan kredit. Banyak yang kini berharap atau justru cemas Bank of Korea akan segera menaikkan suku bunga.
Di sisi lain, harga minyak yang tetap tinggi di perdagangan Asia menambah daftar kekhawatiran. Lonjakan harga energi ini berpotensi mendorong inflasi global lebih tinggi lagi, yang pada akhirnya bisa memaksa bank-bank sentral untuk bersikap lebih agresif.
Pelemahan juga terjadi di pasar lain. Hong Kong, diwakili indeks Hang Seng, merosot 3,1 persen. Bursa China, CSI 300 dan Shanghai Composite, masing-masing melemah sekitar 2 persen. Australia dan Singapura juga ikut terimbas, dengan S&P/ASX 200 turun 0,7 persen dan Straits Times Index melemah 1,8 persen. Sementara itu, kontrak berjangka Nifty 50 India tercatat turun tipis 0,3 persen.
Semua ini, sebenarnya, cerminan dari tren buruk yang sudah lebih dulu terjadi di Wall Street. Pasar saham AS sendiri telah mencatatkan penurunan selama empat pekan berturut-turut, seiring minimnya sinyal perdamaian dari kancah konflik. Dan pada perdagangan awal hari ini, kontrak berjangka S&P 500 masih terpantau turun 0,2 persen. Suasana tegang tampaknya masih akan berlanjut.
Artikel Terkait
Surya Hadiwinata Resmi Ditunjuk sebagai Direktur Utama MDTV Media Technologies Gantikan Lie Halim
OJK Dukung KEK Keuangan di Bali untuk Percepat Pendalaman Pasar Modal Nasional
Adhi Karya Rombak Jajaran Komisaris dan Direksi, Angkat Alexander Ruby Setyoadi sebagai Komisaris Baru
Wall Street Bertahan di Dekat Rekor Tertinggi, Harga Minyak Anjlok Imbas Harapan Kesepakatan AS-Iran