Harga minyak melonjak lagi, pasar saham AS ambruk. Di tengah gejolak ekonomi itu, Presiden Donald Trump justru mengisyaratkan kemungkinan menarik mundur operasi militer besar-besaran Amerika terhadap Iran. Kabar ini ia sampaikan lewat platform Truth Social, Sabtu (21/3/2026).
“Kita semakin dekat untuk mencapai tujuan kita. Kita mempertimbangkan untuk mengurangi operasi militer besar kita di Timur Tengah," tulisnya.
Pernyataan itu muncul di tengah kebijakan Washington yang terkesan plin-plan. Di satu sisi, pemerintahan Trump sempat berencana mencabut sanksi untuk minyak Iran yang sudah ada di kapal. Langkah itu jelas bertujuan menenangkan pasar dan menahan laju kenaikan harga bahan bakar.
Tapi di sisi lain, isu serangan darat justru beredar. Bahkan, sekitar 2.500 marinir AS baru saja dikerahkan ke kawasan Timur Tengah. Jadi, mana yang benar? Pernyataan damai atau persiapan perang? Rasanya seperti melihat dua wajah kebijakan yang berbeda dalam waktu berdekatan.
Perang sendiri sudah memasuki minggu ketiga. Dan sampai Sabtu pagi, situasinya masih panas. Israel melaporkan bahwa Iran terus meluncurkan rudal ke arahnya.
Serangan rudal Iran itu tak lepas dari aksi Israel sehari sebelumnya. Pesawat tempur Israel dikabarkan menghantam Teheran tepat saat warga setempat tengah merayakan Tahun Baru Persia, Nowruz. Sebuah serangan yang penuh simbol dan tentu saja, menyulut amarah.
Jadi, isyarat Trump untuk mengurangi operasi militer ini bisa jadi angin segar. Atau, barangkali hanya strategi sesaat untuk menenangkan pasar. Waktulah yang akan menjawab.
Artikel Terkait
KPK Periksa Kadis PUPR Cilacap sebagai Saksi Kasus Pemerasan Bupati Nonaktif
Bupati Banyumas: Pengalaman di Luar Kampus Jadi 60 Persen Bekal Masuk Dunia Kerja
LVMH Lepas Marc Jacobs, Fenty Beauty, dan Kebun Anggur demi Fokus pada Merek Inti
Aset Asuransi Nasional Tembus Rp1.195 Triliun per Maret 2026, Tumbuh 4,38 Persen