Namun begitu, Purbaya berusaha menenangkan. Ia menjamin kebijakan penghematan ini sudah dihitung matang agar tidak sampai menggoyang pertumbuhan ekonomi. Komitmennya adalah memantau kondisi likuiditas pasar secara ketat, bahkan mungkin setiap hari, untuk memastikan stabilitas tetap terjaga.
"Tapi enggak akan sampai berefek ke perekonomian, dan kami pastikan juga likuiditas terjaga baik. Itu saya monitor mungkin harian," janjinya.
Lalu, bagaimana dengan wacana potong 10 persen tadi? Purbaya mengakui prosesnya tak semudah membalik telapak tangan. Negosiasi dengan para pimpinan kementerian dan lembaga masih berlangsung alot. Yang lucu, alih-alih menyetujui efisiensi, banyak instansi justru merespons dengan mengajukan tambahan dana lagi.
"Kalau kami usulin, mereka ngajuin 10 persen (efisiensi). Tapi kalau saya tawarin ke mereka (efisiensi 10 persen), mereka bukan potong malah nambah terus," keluhnya.
Ia melanjutkan, "Kalau mereka bilang potong, mungkin nanti mereka sesuaikan. Tapi berapa persen, lagi kami diskusikan."
Jadi, skema efisiensi ini masih dalam tarik-ulur. Hasil akhirnya masih harus ditunggu, sementara Purbaya tetap pada pendirian untuk mengencangkan ikat pinggang anggaran negara.
Artikel Terkait
Jasa Marga dan Korlantas Teruskan Contraflow di Tol Jakarta-Cikampek Antisipasi Lonjakan Kendaraan
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,9 Juta per Gram di Hari Lebaran 2026
Silaturahmi Idulfitri, Pramono Anung dan Rano Karno Sambut Ratusan Warga di Balai Kota
Pemerintah Terapkan WFH Sehari Seminggu untuk ASN Usai Lebaran