Ketut juga menyebutkan sumber-sumber pasokan yang menjaga kelancaran ini. "Jadi stok daging relatif sangat cukup, karena kita kan importasinya 700 ribu live cattle (sapi hidup). Dominan dari Australia. Dari Brasil belum banyak yang datang. Kemudian stok daging lokal juga banyak, dari NTB, dari NTT. Kemudian ada penggemukan juga,"
katanya.
Di sisi lain, pemerintah tak hanya fokus pada ketersediaan. Pantauan terhadap harga di pasar juga terus dilakukan. Kabarnya, tren harga daging sapi mulai menunjukkan penurunan dan reratanya cenderung stabil. Pemerintah berjanji akan menjaga kewajaran harga, mulai dari tingkat Rumah Potong Hewan (RPH) sampai ke tangan pengecer.
"Stok kita aman. Kemudian kita pantau harga daging secara nasional, kecenderungannya flat dan turun. Jadi sebenarnya setelah memastikan stoknya sangat cukup, harga daging sapi juga akan terus dijaga,"
tutup Ketut.
Dengan klaim stok melimpah dan komitmen stabilisasi harga, Bapanas berupaya menenangkan publik jelang momen permintaan tinggi seperti Lebaran. Tinggal kita lihat realisasinya di lapangan.
Artikel Terkait
Microsoft Ancam Gugat OpenAI dan Amazon Soal Kerja Sama Cloud Rp850 Triliun
BAZNAS Tetapkan Zakat Fitrah Rp50.000 per Jiwa Menjelang Lebaran 2026
Tiket Bus ke Sumatera dan Jawa Naik Daun, Terminal Pulo Gebang Mulai Ramai Pemudik
BAZNAS Tetapkan Zakat Fitrah Rp50.000 per Jiwa untuk Ramadan Ini