Iran Naikkan Upah Minimum 60% di Tengah Perang dan Inflasi Tinggi

- Selasa, 17 Maret 2026 | 13:35 WIB
Iran Naikkan Upah Minimum 60% di Tengah Perang dan Inflasi Tinggi

Di sisi lain, kondisi ekonomi Iran memang sedang sangat suram. Inflasi masih menggila di atas 40 persen, dan nilai mata uang rial terus merosot ke level terendah sepanjang sejarah pada akhir tahun lalu. Daya beli masyarakat tergerus, harga-harga kebutuhan pokok melambung. Tekanan ekonomi inilah yang disebut-sebut memicu gelombang demonstrasi besar akhir Desember 2025, yang berujung pada kerusuhan mematikan. Angka resmi menyebutkan sekitar 1.500 orang tewas dalam peristiwa tersebut.

Menyadari betapa peliknya situasi, pihak berwenang berencana mengevaluasi kembali upah minimum pada September mendatang. Tujuannya, untuk menilai apakah pendapatan itu sudah seimbang dengan beban pengeluaran yang terus membengkak.

Tak hanya fokus pada pekerja, pemerintah juga sedang mempersiapkan program dukungan untuk bisnis-bisnis yang terpukul perang. Rencananya, akan ada bantuan keuangan, khususnya untuk bengkel-bengkel yang produksinya terganggu.

Midari menambahkan, langkah-langkah lebih lanjut masih digodok bersama bank sentral dan Kementerian Ekonomi. Salah satu yang sedang dibahas adalah skema pinjaman darurat untuk pekerja di sektor tertentu, seperti para pengemudi taksi.

Jadi, di balik kabar kenaikan upah itu, terlihat upaya pemerintah untuk menahan laju krisis. Meski perang masih berlangsung dan tekanan ekonomi begitu berat, setidaknya ada upaya konkret untuk meredam gejolak sosial yang bisa muncul kapan saja.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar