Namun begitu, untuk hal-hal yang bersifat praktikum, pemerintah tetap menganjurkan tatap muka. Tujuannya jelas: menjaga kualitas pembelajaran. Pendekatannya nanti akan mempertimbangkan jenjang pendidikan dan kebutuhan yang berbeda-beda, tidak bisa disamaratakan.
Di sisi lain, rapat itu juga menyisakan beberapa pekerjaan rumah. Misalnya, bagaimana mekanisme penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) jika pola kehadiran siswa di sekolah berubah drastis? Ini perlu dibahas lebih lanjut.
Begitu pula dengan skema pembiayaan untuk akses internet peserta didik jika pembelajaran daring benar-benar diterapkan. Soal pendanaan ini masih perlu opsi-opsi alternatif.
“Koordinasi lintas kementerian dan lembaga menjadi kunci agar kebijakan efisiensi energi dapat berjalan efektif, sekaligus memastikan pelayanan publik tetap berjalan optimal,”
tegas Pratikno menutup penjelasannya.
Sebagai tindak lanjut, semua hasil rapat ini akan dirumuskan dalam sebuah laporan khusus untuk Presiden Prabowo Subianto. Laporan itu akan memuat peta konsumsi energi di sektor pembangunan manusia dan rekomendasi langkah konkret penghematan dari kementerian terkait. Semuanya mengerucut pada target April 2026 itu. Waktunya memang masih cukup panjang, tapi persiapannya harus dimulai dari sekarang.
Artikel Terkait
Jalur Kalimalang Sepi di Siang Bolong, Arus Mudik Motor Belum Meningkat
Ekspor Korea Selatan Melonjak 16,6% di Februari 2026, Didorong Semikonduktor AI
Iran Naikkan Upah Minimum 60% di Tengah Perang dan Inflasi Tinggi
Arus Mudik Lebaran 2026 di Tasikmalaya Capai 35.000 Kendaraan dalam Dua Hari