Yang membuat pelayaran Karachi mencolok adalah sinyal AIS-nya yang tetap aktif sepanjang perjalanan. Ini menjadikannya tanker non-Iran pertama yang diketahui menyeberang dengan AIS hidup sejak konflik pecah. “Kapal tersebut berlayar di antara Larak dan Qeshm, yang jelas bukan rute yang disarankan jika mencoba keluar dari Teluk tanpa izin,” tegas Kelly.
Tak cuma Karachi. Tiga kapal lain juga terlihat menggunakan koridor yang sama: Anthea berbendera Kepulauan Marshall, Lacon dari Liberia, dan Kamran dari Panama. Polanya serupa: mereka belok ke utara mendekati pulau-pulau Iran, lalu berbelok lagi ke selatan menuju Teluk Oman.
“Empat kapal ini sudah cukup untuk menunjukkan tren,” kata Kelly.
Di sisi lain, gambaran besarnya tetap suram. Aktivitas pengiriman secara keseluruhan di Selat Hormuz masih anjlok. Banyak pemilik kapal dan perusahaan pelayaran yang enggan mengambil risiko. Premi asuransi risiko perang yang melambung tinggi jadi alasan utama. Mereka memilih menunggu, menghindari zona konflik yang masih panas sampai situasi benar-benar jelas.
Jadi, meski ada sedikit celah, normalitas masih jauh dari kenyataan. Selat Hormuz tetap menjadi titik kritis yang pergerakannya diawasi ketat, kapal demi kapal.
Artikel Terkait
Iran Naikkan Upah Minimum 60% di Tengah Perang dan Inflasi Tinggi
Arus Mudik Lebaran 2026 di Tasikmalaya Capai 35.000 Kendaraan dalam Dua Hari
ASDP Geram, Calo Tiket Masih Berkeliaran Meski Sistem Penjualan Sudah Online
Presiden Prabowo Kirim Bantuan Alat Ibadah dan Sandang untuk Korban Banjir Bireuen