Malam Minggu lalu, Jusuf Kalla menyampaikan peringatan keras soal kondisi keuangan negara. Mantan Wakil Presiden dua periode itu angkat bicara terkait rencana pelebaran defisit APBN di atas batas 3 persen. Menurutnya, langkah itu mengandung risiko besar yang tak bisa dianggap enteng.
"Makin besar defisit juga itu ada risikonya nanti, bahwa pembayaran cicilan dan bunga makin tinggi," ujar JK.
Ia melanjutkan, beban itu akan membuat porsi utang dalam anggaran membengkak. Kalau sudah begini, ancaman terhadap keberlanjutan fiskal nasional jadi nyata. Angka utang yang semestinya dijaga maksimal di kisaran 40 persen, bisa meroket hingga 50 persen. "Dan itu sangat berbahaya untuk kelanjutan hidup," tegasnya.
Namun begitu, JK paham betul situasi yang dihadapi pemerintah saat ini. Menjaga defisit tetap di bawah 3 persen bukan perkara mudah. Apalagi jika harga minyak dunia tiba-tiba melonjak. Kenaikan itu otomatis akan membebani anggaran subsidi energi, yang ujung-ujungnya membuat defisit makin melebar.
Dampaknya langsung terasa. Ruang gerak pemerintah untuk mendanai proyek pembangunan jadi menyempit. "Begitu defisit makin besar, kapasitas untuk pembangunan makin kecil. Itu harus diperbaiki," lanjutnya.
Artikel Terkait
KPK Buka Peluang Jerat Pelaku Swasta dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
Lebaran 2026: 40 Ribu Pemudik Berangkat dari Stasiun Senen dan Gambir di Hari Puncak
Transportasi Udara, Laut, dan Darat Bali Berhenti Sementara untuk Nyepi 2026
Menhub: Arus Mudik Lebaran 2026 Masih Sesuai Prediksi Berkat WFA dan Single Tarif