Di tengah gemuruh investigasi perdagangan yang digelar Amerika Serikat, pemerintah Indonesia justru memilih bersikap tenang. Pijakan mereka jelas: Agreement on Reciprocal Trade atau ART. Kesepakatan itulah yang disebut-sebut sebagai fondasi utama hubungan dagang dengan AS, tak tergoyahkan oleh proses penyelidikan yang sedang berjalan di sana.
Menurut Haryo Limanseto, Juru Bicara Kemenko Perekonomian, seluruh proses investigasi itu sebenarnya hal yang biasa. Ia melihatnya semata sebagai prosedur administratif dan hukum yang wajib dijalankan di Amerika.
“Pada dasarnya, ini urusan administrasi hukum di negara mereka. Ya, harus diikuti prosesnya. Tapi bagi kami, pedoman utamanya tetaplah ART. Jadi, kita jalani saja proses investigasi ini,” ujar Haryo.
Pernyataan resminya dikeluarkan Senin (16/3/2026), namun sebelumnya ia sudah menjawab berbagai pertanyaan panas dari awak media dalam sebuah Media Gathering di Jakarta, Jumat lalu.
Memang, Indonesia bukan satu-satunya negara yang masuk dalam sorotan investigasi AS. Namun posisi kita agak berbeda. Ada ART yang jadi pembeda. Perjanjian itu sendiri lahir dari perundingan alot yang makan waktu lebih dari setahun. Karena itulah, pemerintah merasa cukup percaya diri.
“Kami akan ikuti investigasinya dengan memberikan data-data yang diminta. Tapi yakin saja, isu-isu yang mereka angkat kemungkinan besar sudah tercakup dan selesai dibahas dalam perundingan ART,” jelas Haryo.
Komunikasi dengan otoritas AS pun diklaim telah intens dilakukan. Pemerintah berusaha menjembatani dan memberi penjelasan soal langkah-langkah kebijakan yang diambil. Intinya, banyak hal yang kini diselisik AS sebenarnya sudah digarap tuntas dalam perjanjian bilateral itu mulai dari aspek perdagangan hingga kerja sama ekonomi yang lebih luas.
Di sisi lain, kerja domestik tak berhenti. Pemerintah masih terus mematangkan proses implementasi ART di dalam negeri. Semuanya berjalan sesuai mekanisme: konsultasi dengan DPR, persiapan ratifikasi, dan lain sebagainya.
Optimisme tetap mengemuka. Haryo menutup pembicaraan dengan keyakinan bahwa kesepakatan ini menguntungkan kedua belah pihak.
“ART ini kesepakatan win-win. Kami optimistis, hasil perundingan panjang ini akan terus berjalan dengan baik,” pungkasnya.
Jakarta, Maret 2026
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi