Di sisi lain, dari Washington, ancaman juga sudah lebih dulu dilontarkan. Presiden AS Donald Trump, pada Jumat, berjanji akan menghajar infrastruktur minyak Iran di Pulau Kharg jika kebebasan navigasi di Selat Hormuz terus diganggu. Situasinya seperti bensin dituang ke api.
Namun begitu, di tengah ketegangan ini, aktivitas bisnis vital Iran tampak berusaha dijalankan seperti biasa. Ehsan Jahanian, wakil gubernur Provinsi Bushehr, menyatakan operasional perusahaan minyak di Pulau Kharg tetap berjalan. Ekspor minyak, klaimnya, tidak terganggu.
"Serangan brutal oleh rezim Zionis-Amerika hari Sabtu lalu memang terjadi. Tapi, operasi di terminal ekspor minyak kami tetap normal," tegas Jahanian.
Dia menambahkan satu poin penting: serangan itu, untungnya, tidak memakan korban jiwa. Baik personel militer, karyawan, maupun penduduk pulau selamat.
Jadi, meski kata-kata perang sudah diterbangkan dari kedua sisi, di lapangan situasinya masih tegang tapi terkendali. Pertanyaannya sekarang, sampai kana?
Artikel Terkait
Polisi Dugaan Pelaku Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Lebih dari Dua Orang
Negara-Negara Arab Teluk Rugi Rp256 Triliun Akibat Penutupan Selat Hormuz
Lebaran 2026: 459.570 Kendaraan Sudah Tinggalkan Jakarta, Puncak Arus Mudik Masih Menanti
Michael Bloomberg Kembali Jadi Filantrop AS Terbesar dengan Sumbangan Rp72 Triliun