“Ini jadi tugas kita semua, para stakeholder, untuk mendongkrak peran Indonesia di pasar dunia,” tegasnya.
Pandangan serupa datang dari Reni Yanita, Dirjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA). Ia meyakini potensi Indonesia sangat besar, baik sebagai pasar yang lapang maupun sebagai basis produksi.
“Kita berpotensi jadi pemain utama di kancah global. Apalagi sektor ini padat karya,” ungkap Reni.
Data BPS 2024 memperkuat pernyataannya: industri kecil pakaian jadi berjumlah 594 ribu unit, dengan serapan tenaga kerja mencapai 1,2 juta orang. Tren modest fashion sendiri kini telah melampaui batas agama.
Ia berkembang jadi gaya busana global yang digemari berbagai kalangan, lintas budaya dan gaya hidup. Konsepnya terus berevolusi, jadi lebih inklusif, tanpa memandang latar belakang agama atau etnis.
“Kita punya modal kuat untuk jadi pusatnya,” kata Reni.
Modal itu berupa kreativitas desainer lokal, kekayaan budaya yang tak ternilai, dan tentu saja, keberagaman bahan tekstil berkualitas yang jadi identitas bangsa. Prestasi ini bukan omong kosong. Laporan SGIER 2024/2025 mencatat, Indonesia menduduki peringkat pertama untuk ekosistem lokal yang mendukung perkembangan industri modest fashion. Sebuah fondasi yang kokoh untuk melangkah lebih jauh.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Cuaca Bersahabat untuk Mudik Lebaran 2026 di Selat Sunda
Presiden Prabowo dan Seluruh Kabinet Serahkan Zakat Rp3,8 Miliar di Istana
Pasar Mobil Nasional Tumbuh 10%, Dominasi Astra Tergerus ke Bawah 50%
Harga Emas Antam Turun ke Rp2,9 Juta per Gram di Akhir Pekan