Meski ada gejolak politik global yang mempengaruhi rantai pasokan, pemerintah meyakinkan bahwa stok LPG di dalam negeri tetap aman. Caranya? Dengan menggeser sumber impor dan mengamankan kontrak jangka panjang dari beberapa negara. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat lalu, Bahlil mengungkap fakta menarik. Selama ini, sekitar 20 persen impor LPG kita ternyata mengandalkan kawasan Timur Tengah. Namun begitu, situasi geopolitik yang belakangan makin panas memaksa pemerintah untuk mencari sumber lain.
“Total impor LPG kita kan 7,6 juta ton. Sebagian besarnya, sekitar 70-75 persen, sudah dari Amerika Serikat,” ujar Bahlil.
Nah, untuk mengantisipasi gangguan dari Timur Tengah, pemerintah pun mengambil langkah cepat. Mereka beralih ke kontrak jangka panjang dengan AS dan beberapa negara lainnya. Bahkan, dua kargo dari Australia disebutkan akan tiba sebelum akhir pekan ini.
Soal pasokan ke depan, terutama menyambut Lebaran, tampaknya sudah diatur jadwalnya. Pemerintah sepertinya ingin menghindari kekosongan stok.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Turun ke Rp2,9 Juta per Gram di Akhir Pekan
Menteri ESDM Ungkap Dua Kapal Minyak RI Nyaris Ditarik Kembali Trader
BMKG Waspadai Potensi Hujan hingga April 2026, Siapkan Antisipasi untuk Mudik Lebaran
Pemerintah Tegaskan Belum Ada Perubahan Skema Haji 2026 Meski Ketegangan Timur Tengah Meningkat