Di Istana Negara, Jumat lalu, Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan pernyataan tegas soal kondisi keuangan negara. Intinya, pemerintah bertekad keras menjaga defisit APBN agar tidak jebol melewati batas 3 persen yang sudah ditetapkan undang-undang. Bahkan, ada cita-cita yang lebih jauh lagi.
"Kita berharap selalu menjaga agar defisit kita tidak bertambah. Bahkan cita-cita kita adalah, kalau bisa, kita tidak memiliki defisit," ujar Prabowo.
Pernyataan itu disampaikannya usai memimpin Sidang Kabinet Paripurna. Latar belakangnya jelas: ada kekhawatiran yang merayap di tengah ketidakpastian global. Konflik di Timur Tengah, yang mendorong harga minyak dunia naik, berpotensi membebani anggaran negara lewat subsidi BBM. Defisit bisa saja melebar kalau tidak dikendalikan.
Namun begitu, Presiden tak terlihat panik. Dia mengakui dampak konflik itu nyata, bisa mendongkrak harga energi sekaligus pangan. Tapi soal pangan, pemerintah punya keyakinan. Upaya swasembada yang digenjot selama ini dianggap sebagai tameng yang cukup kuat. "Kita, alhamdulillah, sudah mengamankan masalah pangan yang mendasar," katanya.
Lalu bagaimana dengan BBM? Di sinilah rencana cadangan muncul. Pemerintah mengaku sudah menyiapkan skenario, termasuk mempercepat penggunaan energi alternatif. Bioetanol dan biofuel, yang sumber dayanya melimpah di dalam negeri, disebut-sebut sebagai pengganti. "Untuk BBM, sebenarnya kita sudah memiliki rencana-rencana, dan ini akan kita akselerasi," tutur Prabowo.
Meski punya rencana, sikapnya tetap realistis. Dia tak menutup mata bahwa situasi global bisa berlarut-larut. Karena itulah, opsi penghematan konsumsi BBM di masyarakat juga ada di atas meja. Ini langkah antisipatif, sekaligus pengingat bahwa rasa aman hari ini bukan jaminan untuk besok.
"Tentunya kita juga harus melakukan langkah-langkah proaktif. Artinya, kita perlu melakukan penghematan konsumsi BBM," jelasnya.
Nada bicaranya tegas tapi tenang. Seolah ingin menyampaikan bahwa badai memang mungkin datang, tapi persiapan sudah dilakukan. Mulai dari menjaga defisit, mengamankan pangan, hingga bersiap beralih energi. Semua dikerjakan agar negara tak terjebak dalam ketergantungan yang berisiko.
Artikel Terkait
Pemerintah Tanggung PPN 100 Persen Tiket Pesawat Ekonomi Domestik Selama 60 Hari
AHY Jenguk Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi, 15 Tewas dan 88 Luka
Mantan Ibu Negara Korsel Kim Keon Hee Divonis 4 Tahun Penjara atas Kasus Suap dan Manipulasi Saham
AHY Dorong Percepatan Pembangunan Flyover Usai Kecelakaan Maut di Perlintasan Bekasi Timur