Ada alasan teknis yang menarik di balik wacana perpanjangan ini. AHY menjelaskan, kereta dengan kecepatan fantastis 350 kilometer per jam baru akan terasa manfaat optimalnya jika jarak tempuhnya panjang. Bayangkan, sekitar 600 hingga 800 kilometer. Dengan rute sejauh itu, kereta bisa mempertahankan kecepatan puncaknya lebih lama.
"Bisa dibayangkan kecepatan 350 km/jam, kalau jaraknya 600 km sampai dengan 800 km itu akan terasa betul kecepatannya, benefit-nya akan lebih dirasakan dibandingkan dengan jarak atau track yang lebih pendek," ujarnya.
"Karena begitu puncak kecepatan, setelah itu dia harus slow down lagi, harus mengurangi kecepatan karena persiapan berhenti di stasiun berikutnya," tambah AHY.
Di sisi lain, potensinya memang luar biasa. AHY meyakini, perpanjangan jalur ini bisa menjadi game changer pengubah permainan dalam pembangunan nasional. Coba pikirkan: perjalanan Jakarta-Surabaya yang biasanya memakan waktu seharian, bisa ditempuh hanya sekitar tiga jam. Itu bukan cuma menghemat waktu.
"Jadi logikanya di sana, tetapi mengapa ini dikembangkan terus karena akan menjadi game changer, Pak ya, kalau bisa dikatakan kalau Jakarta-Surabaya bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam saja lewat kereta, saya rasa ini akan mengubah peta pembangunan sekaligus juga pertumbuhan ekonomi baru bisa kita hadirkan di sepanjang jalur baru tersebut," katanya menegaskan.
Impiannya besar. Tapi langkahnya harus bertahap. Selesaikan dulu persoalan yang ada di depan mata, baru melompat ke tahap berikutnya. Itulah strategi yang sedang dijalankan.
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan Aturan Batasi Akses Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Kemenhaj Siapkan Dua Skenario Haji 2026 Antisipasi Konflik Timur Tengah
Stellantis Terbitkan Obligasi Hybrid Rp97,9 Triliun untuk Kuatkan Likuiditas
Persiapan Mudik Lebaran 2026 Dimulai, Keamanan dan Kenyamanan Jadi Prioritas