Tragedi Warakas: Teriakan Histeris Pecah di Pagi Buta, Tiga Nyawa Melayang

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 19:18 WIB
Tragedi Warakas: Teriakan Histeris Pecah di Pagi Buta, Tiga Nyawa Melayang

Suasana mencekam melanda sebuah rumah kontrakan di Warakas, Tanjung Priok, pagi itu. Semua berawal dari teriakan histeris seorang pemuda, Khadafi, yang baru saja pulang kerja. Dialah orang pertama yang menemukan keadaan mengerikan di dalam rumah: tiga anggota keluarganya terbaring tak bernyawa.

Aryuni Wulan Febri, tetangga berusia 51 tahun, masih jelas mengingat detik-detik itu. Ia baru saja melihat Khadafi pulang, tapi tak sempat menyapa. "Saya lihat aja gitu, oh masnya sebelah," katanya.

Namun, hanya lima menit kemudian, ketenangan pagi itu pecah.

"Saya kedengeran kan, kirain berantem biasa. Ternyata teriakannya minta tolong," ujar Wulan, menceritakan kembali kejadian Sabtu (3/1) itu.

Ia pun keluar. Yang didengarnya membuat bulu kuduknya merinding. Khadafi berteriak-teriak, "Ibu minta tolong dong tolong, ibu saya keracunan gitu!"

"Kalau Khadafi-nya histeris banget. 'Aku pengin bunuh diri, enggak punya siapa-siapa lagi,' katanya. Kita yang lihat aja ikut sedih," kenang Wulan.

Penasaran dan was-was, Wulan memberanikan diri masuk. Pemandangan yang disaksikannya sungguh di luar dugaan. "Pas saya lihat udah... pada berbusa, kaku gitu," ungkapnya, suara bergetar.

Ia lalu merinci posisi ketiga korban. Sang ibu, Siti Soliha, ada di kamar pertama. Kakak perempuan, Afiah Al Adilah Jamaludin, di kamar kedua. Sementara adik bungsu, Adnan Al Abrar Jamaludin, tergeletak di ruang tamu. Semuanya sudah tak bergerak, mulutnya mengeluarkan busa.

Wulan langsung panik. Takut, ia memilih untuk segera keluar. "Nggak berani pegang atau ngecek masih hidup apa nggak. Harus keluar, saya panggil Pak RT dulu," jelasnya. Baginya, ini urusan yang harus ditangani pihak berwenang.

Tak lama kemudian, RT setempat datang. Ambulans dan polisi segera dihubungi untuk mengevakuasi dan memproses TKP.

Hingga kini, penyebab pasti tragedi ini masih diselidiki polisi. Mereka menunggu hasil uji toksikologi dari autopsi yang telah dilakukan. Sementara itu, satu nyawa lain masih bergantung. Abdullah Syauqi Jamaludin (23), anggota keluarga yang juga ditemukan di rumah itu, masih berjuang di ruang perawatan intensif rumah sakit. Kondisinya kritis.

Rumah kontrakan yang sunyi itu kini menyisakan duka dan tanda tanya besar.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar