JAKARTA – Ada analisis menarik dari mantan Duta Besar RI untuk Tunisia, Ikrar Nusa Bhakti. Menurutnya, Amerika Serikat dan Israel sebenarnya punya keinginan untuk menghentikan perang dengan Iran. Alasan utamanya sederhana: serangan-serangan Iran, yang didukung oleh China, dinilai sangat mematikan dan efektif.
“Kita tahu bahwa AS dan Israel itu memang mencoba agar perang ini berhenti, kenapa? Karena serangan Iran gak main-main,” ujar Ikrar.
Pernyataannya itu disampaikan dalam program Rakyat Bersuara bertajuk 'Perang AS-Israel Vs Iran Meluas, Kita Harus Bagaimana?' di iNews, Selasa (10/3/2026) lalu.
Ikrar dengan tegas menepis anggapan bahwa perdamaian akan terjadi karena Iran kalah. Justru sebaliknya. Ia meyakini Iran belum sepenuhnya mengerahkan semua kemampuan militernya. Situasinya jadi makin rumit dengan kehadiran China di pihak Teheran.
“China itu kan bantu Iran bukan cuma di dalam persoalan cyber ya, bagaimana mengacaukan sinyal-sinyal yang dimiliki Israel atau pun dimiliki AS di daerah tersebut,” tuturnya.
Bantuan teknis itu, lanjut Ikrar, benar-benar memperkeruh situasi di lapangan bagi AS dan sekutunya.
Di sisi lain, Amerika Serikat sendiri dinilai sedang bermain untuk mengulur-ulur waktu. Perang ini ternyata membebani anggaran mereka secara luar biasa. Ikrar memprediksi, tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump bakal melonjak jika serangan ke Iran terus dilanjutkan tanpa henti.
“Kenapa AS buying time? Karena mereka sedang tertekan biaya perangnya itu bukan main,” katanya.
“Kalau perang ini berlanjut, bukan mustahil tekanan terhadap Donald Trump itu makin meningkat.”
Faktor dalam negeri AS juga tak luput dari pantauannya. Pemilu DPR dan Senat AS pada November 2026 nanti disebutnya bisa menjadi titik balik. Bukan tidak mungkin kandidat dari Partai Demokrat akan meraih kemenangan, yang pada akhirnya menambah beban politik bagi Trump.
“Bagaimana di Kongres itu, baik Demokrat mau Republik, kan sedang menyatu. Ada satu tujuan mereka supaya Donald Trump itu jangan terus mengelabui masyarakat di Amerika sana,” pungkas Ikrar.
Artikel Terkait
OCBC Akuisisi 20 Persen Saham Great Eastern Life Indonesia Senilai Rp201,98 Miliar
Spanyol Kalahkan Peru 3-1 dalam Uji Coba Jelang Piala Dunia 2026
Ekspor China Melonjak 19,4 Persen pada Mei 2026, Surplus Perdagangan Capai Rp19.100 Triliun
Proses Perpanjangan SLF RSPI Berjalan, Pihak Rumah Sakit Lakukan Perbaikan Teknis