Lalu, apa sih keuntungan praktisnya bagi perusahaan? Pertama, semua informasi terkait pelaporan dan pemeriksaan ada dalam satu tempat. Ini jelas meminimalkan risiko kesalahan atau duplikasi data yang sering terjadi kalau sistemnya terpisah-pisah. Kemudian, ada fitur self-flagging yang cukup canggih. Perusahaan bisa mengategorikan sendiri dana yang masuk, misalnya dari ekspor migas atau non-migas. Pengelompokan semacam ini sangat membantu tim keuangan dalam menyusun laporan internal dan mempersiapkan audit.
Yang nggak kalah keren, sistemnya mengirim notifikasi otomatis setiap ada dana baru yang masuk. Jadi, perusahaan nggak perlu lagi repot cek manual. Pengawasan arus devisa jadi lebih proaktif dan responsif. Selain itu, laporan transaksi bisa diunduh sebagai dokumen pendukung, memudahkan penyimpanan arsip dan persiapan untuk keperluan apa pun.
Dengan segala kemudahan itu, DHE Tracker diharapkan bisa jadi mitra strategis perusahaan. Bukan cuma menjaga kepatuhan, tapi juga meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan.
"Kehadiran DHE Tracker semakin memperkuat peran Kopra by Mandiri sebagai enabler transformasi digital sektor wholesale, sekaligus katalis pertumbuhan ekonomi nasional," pungkas Yohan.
Perkembangan Kopra sendiri terbilang pesat. Hingga akhir 2025, nilai transaksinya sudah melampaui angka Rp27.000 triliun. Itu artinya tumbuh lebih dari 20% year-on-year. Volume transaksinya bahkan menembus 1,5 miliar, naik 14% dari periode sebelumnya. Jumlah penggunanya pun melebihi 300 ribu. Angka-angka ini menunjukkan satu hal: kepercayaan korporasi terhadap layanan digital Bank Mandiri terus meningkat.
Artikel Terkait
Kadin Siapkan Kajian MBGnomics untuk Ukur Dampak Ekonomi Program Makanan Gratis
BRI Gelar Buka Puasa Bersama Pemred, Bahas Kolaborasi dan Dukung Jurnalisme Berkualitas
Pengadilan Perdagangan AS Tegaskan Importir Berhak Pengembalian Tarif Resiprokal Era Trump
Polri Desak Perbankan Perketat Pengawasan untuk Cegah Transaksi Judi Online