Ia menekankan, sekarang lebih dari ever, penghormatan pada hukum internasional dan Piagam PBB itu mutlak. “Saya menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, serta kebutuhan mendesak untuk mencegah eskalasi lebih lanjut melalui diplomasi,” ujarnya.
Intinya, jalan damai lewat diplomasi harus didahulukan.
Serangan yang memicu duka itu sendiri terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026. Menurut sejumlah saksi dan media setempat, serangan pertama langsung menyasar kantor Ayatollah Ali Khamenei di Teheran. Kepulan asap hitam membubung tinggi di pusat kota, menggambarkan kepanikan yang terjadi di tanah itu.
Seorang pejabat AS kemudian mengonfirmasi. Ya, serangan ke Iran itu adalah operasi militer gabungan antara AS dan Israel. Respons dari Israel pun cepat. Militer mereka langsung menyatakan keadaan darurat dan memerintahkan warga untuk segera berlindung.
Dalam keributan dan kesedihan itulah, diplomasi tetap harus bekerja. Seperti yang coba dilakukan Indonesia lewat pertemuan Rabu itu.
Artikel Terkait
ASDP Proyeksikan Lonjakan 9,4% Penumpang Mudik Lebaran 2026, Siapkan Strategi Distribusi
AS Tembak Torpedo ke Kapal Iran, Pertama Sejak Perang Dunia II
Menlu Sugiono Serukan Deeskalasi dan Tawarkan Indonesia Jadi Mediator Konflik AS-Israel-Iran
Pelni Proyeksikan Penumpang Mudik Lebaran 2026 Turun Tipis Jadi 641.025 Orang