Inflasi Februari 2026 Capai 0,68%, Didorong Kenaikan Harga Pangan

- Senin, 02 Maret 2026 | 12:30 WIB
Inflasi Februari 2026 Capai 0,68%, Didorong Kenaikan Harga Pangan

Rilis kali ini juga menyoroti momen Ramadan. Menurut catatan BPS, dalam lima tahun terakhir, inflasi selalu terjadi saat Ramadan, meski besaran angkanya naik-turun.

“Tingkat inflasi Februari 2026 yang bertepatan dengan momen Ramadan ini masih lebih rendah dibandingkan momen Ramadan 2022 dan Ramadan 2025,” kata Ateng.

Dia melanjutkan, pola yang kerap terlihat adalah komoditas bergejolak serta kelompok makanan dan minuman selalu menjadi biang keladi inflasi di setiap Ramadan.

Lalu, bagaimana dengan inflasi tahunan? Angkanya terpantau lebih tinggi, yakni 4,76 persen (y-on-y) pada Februari 2026. Ini berbanding terbalik dengan kondisi Februari 2025 yang malah deflasi 0,09 persen. BPS punya penjelasan untuk ini.

Pihaknya menyebut adanya efek "low-base" atau dasar penghitungan yang rendah. Awal tahun lalu, pemerintah memberikan diskon tarif listrik yang menekan IHK secara artifisial. Kebijakan serupa tidak ada di 2026, sehingga perbandingan tahunannya jadi melonjak. Dampak efek ini paling kentara pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar, yang inflasi tahunannya mencapai 16,19 persen!

Kelompok makanan tetap mengalami inflasi tahunan 3,51 persen. Hampir semua provinsi mengalami inflasi tahunan, dengan Aceh mencatat tingkat tertinggi (6,94%) dan Papua Pegunungan yang terendah (0,63%).

Singkatnya, dinamika harga bulan lalu memang kompleks. Ada tekanan dari bahan pangan, tapi juga ada efek statistik dari kebijakan tahun sebelumnya yang membuat angka tahunan terlihat besar.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar