TEL AVIV Suara sirene meraung-raung di tengah malam, memecah kesunyian di Kota Bnei Brak, dekat Tel Aviv. Rudal-rudal Iran akhirnya menghantam tanah Israel pada Sabtu (28/2/2025) itu. Serangan skala besar ini, menurut laporan, tak hanya ditujukan ke Israel, tapi juga membidik pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di Timur Tengah. Iran menyebutnya aksi pembalasan.
Kabar pertama datang dari media lokal. Surat kabar Yedioth Ahronoth dan Channel 12 TV melaporkan banyak korban luka berjatuhan. Namun, detailnya seperti ditelan kabut. Pemerintah Israel memberlakukan sensor ketat, melarang media mengungkap data rinci dampak serangan berapa korban, seberapa parah kerusakannya. Bahkan jurnalis dilarang keras mendekati lokasi untuk mengambil gambar.
Seorang juru bicara Markas Besar Khatmul Anbiya Iran dengan tegas menyatakan,
"Selain pusat-pusat militer dan keamanan vital rezim Zionis, serangan dilakukan terhadap 14 pangkalan penting AS di wilayah tersebut. Ratusan orang dari pasukan agresor AS dan pasukan rezim (Israel) tewas."
Pernyataan itu sekaligus mengonfirmasi skala operasi mereka.
Sebenarnya, militer Israel sudah lebih dulu melaporkan rentetan rudal yang meluncur dari Iran beberapa jam sebelumnya. Itu adalah bagian dari gempuran malam hari yang mengarah ke wilayah mereka. Sirene peringatan pun berhasil dibunyikan di sejumlah daerah, terutama di Israel tengah dan selatan, memberi kesempatan bagi warga untuk berlari ke tempat perlindungan.
Namun begitu, suasana mencekam ini bukan kali pertama. Sejak perang 12 hari pada Juni 2025 silam, Israel memang dikenal sangat tertutup soal informasi kerugian mereka. Sensor diberlakukan untuk segala hal: kerusakan infrastruktur, korban jiwa, apalagi lokasi serangan yang tepat. Semuanya dikelola ketat.
Di sisi lain, serangan Iran ini bukan datang tiba-tiba. Ia adalah respons balasan. Pagi harinya, AS dan Israel lebih dulu melancarkan serangan gabungan ke Iran. Tujuannya, kata mereka, adalah untuk melenyapkan ancaman yang dinilai berasal dari rezim Tehran. Beberapa jam kemudian, jawabannya datang: hujan rudal dan drone yang menargetkan Israel dan sekutunya.
Malam itu, langit Timur Tengah kembali menjadi panggung konflik yang memanas. Dan di Bnei Brak, dentuman serta sirene adalah pengingat nyata bahwa perang belum berakhir.
Artikel Terkait
Negosiasi Impor LPG dari Rusia Masih Alot di Tengah Lonjakan Kebutuhan Nasional
Prabowo Terbitkan Tiga Aturan Baru untuk Perkuat Ketahanan Pangan
Mendikti Siapkan Sinergi Nasional Tangani Kekerasan Seksual di Kampus
OpenAI Siapkan Dana Lebih dari US$20 Miliar untuk Amankan Akses Chip Cerebras