“Tapi yang perlu kami sampaikan dan tegaskan sekali lagi bahwa terkait dengan mandat, telah jelas. Dari national caveat kita, saya sampaikan beberapa hal, seperti misalnya yaitu mandat non-combat dan non-demiliterisasi,” ujar Caka dalam konferensi pers Jumat (27/2).
Artinya, pasukan TNI tidak akan menjalankan peran pelucutan senjata. Mereka juga tak akan menargetkan pihak mana pun. Penugasan mereka terbatas hanya di Gaza.
Rafah disebut-sebut akan menjadi lokasi penempatan awal. Wilayah ini memang strategis, tapi juga sangat sensitif. Posisinya berbatasan langsung dengan Mesir dan kerap dipadati pengungsi yang mencari perlindungan.
Secara keseluruhan, ISF diperkirakan akan beranggotakan sekitar 20.000 personel militer ditambah 12.000 polisi dari negara-negara anggota Dewan Perdamaian Gaza. Bahbah berharap kehadiran mereka bisa menekan pelanggaran gencatan senjata dan menciptakan stabilitas.
Lebih dari itu, kehadiran pasukan internasional ini dinilai penting untuk melindungi Komite Nasional untuk Pemerintahan Gaza yang baru dibentuk. Pemerintahan sementara itu membutuhkan ruang aman agar bisa bekerja di tengah situasi yang masih sangat rapuh.
Artikel Terkait
Kilang Dumai dan Balongan Siap Produksi Avtur Ramah Lingkungan dari Minyak Jelantah
Kredit UMKM Non-KUR Baru Capai 19,4%, Jauh dari Target Pemerintah
AS dan Israel Lancarkan Serangan Rudal Besar-besaran ke Iran, Teheran Ancang Balas Dendam
Menkes Kritik Sahur Mie Instan Plus Nasi, Sarankan Telur dan Alpukat