Anindya Bakrie tak menampik ada tantangan serius di balik kabar gembira tarif nol persen untuk ekspor tekstil ke Amerika. Ketua Umum Kadin Indonesia itu menyoroti persoalan lama: dumping dan maraknya impor ilegal, terutama dari China. Menurutnya, ini sudah level yang mengkhawatirkan. "Impor ilegal China ini benar-benar mesti penanggulangannya khusus. Atau dari negara manapun juga mesti khusus," tegas Anindya, yang akrab disapa Anin, di kediamannya di Jakarta Pusat, Jumat malam lalu.
"Karena ini sudah bukan dumping lagi, dumping ilegal," tambahnya.
Namun begitu, ada satu syarat utama yang bikin persoalan jadi tak sederhana. Pembebasan tarif itu ternyata dikaitkan dengan seberapa banyak Indonesia mengimpor bahan baku seperti kapas dan serat buatan dari AS sendiri. Ini jelas jadi pertimbangan tersendiri bagi pelaku industri di dalam negeri.
Di sisi lain, Anin melihat peluang itu tetap terbuka. "Bahwa kalau kapasnya dari Amerika, dan nanti dieksporkan mereka 0 persen, itu bisa mendapat manfaatnya tentunya pengekspor Indonesia," ujarnya.
Baginya, ketergantungan pada volume impor bahan baku sebenarnya bukan halangan paling besar. Yang justru lebih krusial adalah daya saing produk itu sendiri di pasar internasional. "Intinya, semua itu mesti kompetitif, dan bisa menjawab kebutuhan dan juga demand daripada masyarakat," papar Anin.
"Jadi kalau nanti impor, ekspor, tapi hasilnya enggak kompetitif, ya tak laku juga," sindirnya ringan.
Artikel Terkait
Progres Tol Jakarta-Cikampek II Selatan Tembus 81,65%, Ditargetkan Rampung September 2026
BRI Dukung Program Gentengisasi Prabowo dengan Pembiayaan KUR
KPK Tetapkan Kepala Seksi Intelijen Cukai sebagai Tersangka Baru Kasus Suap Impor
BNPB: Jumlah Pengungsi Bencana di Sumatera Turun Signifikan Jadi 11.250 Orang