Yang lebih menggembirakan lagi adalah sisi keaktifannya. Investor syariah aktif per Desember 2025 menyentuh 43.135 investor, naik signifikan dari tahun sebelumnya yang ada di level 30.979. Pertumbuhan jumlah pemodal ini, tentu saja, berimbas langsung pada nilai transaksi.
"Saya dan BEI sekarang lebih senang menyoroti pencapaian investor syariah yang 217 ribu itu," tutur Irwan dengan nada optimis.
"Dari jumlah tersebut, transaksinya sudah tembus Rp11,2 triliun," tambahnya.
Nilai transaksi Rp11,2 triliun itu bukan main-main. Ia merupakan lompatan besar dari perolehan tahun 2024 yang 'hanya' Rp5,5 triliun. Secara operasional, ini diterjemahkan ke volume transaksi 30,6 miliar saham dengan frekuensi perdagangan mencapai 2,7 juta kali.
Fakta-fakta ini semakin mengukuhkan bahwa pasar modal syariah sudah bukan sekadar pelengkap lagi. Kini, ia mendominasi struktur pasar modal Indonesia. Hingga akhir 2025, dari total 956 saham yang tercatat di bursa, sebanyak 672 di antaranya adalah saham syariah.
Kapitalisasi pasarnya pun ikut meroket. Di Desember 2025, angka itu mencapai Rp8,97 triliun, naik dari tahun 2024 yang sebesar Rp6,82 triliun. Semua data ini seolah menegaskan: pasar syariah sedang naik daun, dan BEI tak mau ketinggalan momentum.
Artikel Terkait
BSI dan Antam Perluas Kerja Sama, Bangun Ekosistem Emas Terintegrasi
Imigrasi Perketat Pengawasan Perusahaan Tambang dan PMA Soal TKA Ilegal
Anwar Usman Bantah Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 Khususkan Jalan Gibran
Putin Sambut Prabowo di Kremlin, Tekankan Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia