Jadi, ini bukan sekadar ledakan emosi sesaat. Rupanya, pelaku sudah lama merasakan tekanan psikologis. Perundungan yang ia alami disebutkan berlangsung cukup lama, menggerogoti mentalnya perlahan-lahan hingga akhirnya meledak dalam bentuk kekerasan fisik yang mengenaskan.
Di sisi lain, proses hukum sudah berjalan. Polisi telah mengamankan pelaku. Barang bukti juga disita, termasuk tiga bilah pisau dapur dan sebuah telepon genggam. Pemeriksaan intensif masih terus dilakukan untuk mengurai benang merah kasus ini secara lebih detail.
Namun begitu, yang jelas, kasus ini kembali membuka luka lama tentang persoalan bullying di sekolah. Praktik yang sering dianggap sepele ini ternyata punya dampak mengerikan. Ketika dibiarkan berlarut-larut, tekanan emosional bisa menumpuk dan berujung pada tragedi. Semua pihak akhirnya dirugikan, baik si korban bullying yang menjadi pelaku kekerasan, maupun korban penikaman itu sendiri.
Polisi menyatakan penyelidikan masih berlanjut. Mereka akan menelusuri lebih dalam lingkungan pergaulan di sekolah tersebut, mencoba memahami kronologi sebenarnya dan mengungkap apakah ada pihak lain yang turut bertanggung jawab. Satu hal yang pasti: ini adalah peringatan keras bagi kita semua.
Artikel Terkait
Yordania Dukung Rencana Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza
Billy Mambrasar Mundur dari Beasiswa LPDP, Beri Kesempatan ke Anak Bangsa Lain
Pelatih Persija: Fokus pada Konsistensi, Bukan Pergerakan Rival
Imsak Jakarta Hari Ini Pukul 04.32 WIB, Disusul Subuh 04.42