“Apapun keputusan negara, keputusan DPR itu adalah suara rakyat. Saya akan taat, loyal, dan manut apapun keputusan itu apabila memang untuk kepentingan rakyat,” katanya dengan tegas.
Rencananya, dia akan segera berkomunikasi dengan Dasco untuk menjabarkan alasan di balik keputusan impor dari India. Joao berargumen, pilihan itu diambil setelah melalui proses yang tidak mudah. Sejumlah korporasi otomotif ternama sudah didekati, tapi tak ada yang sanggup memenuhi permintaan ratusan ribu unit dalam waktu singkat. Harganya pun, klaimnya, jauh melambung di atas anggaran yang disediakan Agrinas.
Sementara itu, dari sisi DPR, Dasco punya alasan politis. Permintaan penundaannya dikaitkan dengan keberadaan Presiden Prabowo Subianto yang sedang berada di luar negeri.
“Jadi rencana impor 105 ribu mobil pikap dari India, saya sudah menyampaikan pesan kepada pemerintah untuk ditunda dulu,” kata Dasco di Senayan, sehari sebelum Joao memberikan keterangan.
“Ini mengingat presiden masih di luar negeri.”
Narasi dari kedua belah pihak kini sedang beradu. Di satu sisi, komitmen kontrak dan uang muka triliunan yang sudah terlanjur cair. Di sisi lain, ada desakan politik untuk menunggu dan meninjau ulang. Bagaimana akhirnya? Semua masih menunggu keputusan yang lebih jelas.
Artikel Terkait
Survei Internasional: Jakarta Jadi Kota Teraman Kedua di ASEAN
Presiden Prabowo Dijadwalkan Temui Putin di Rusia Besok, Bahas Energi dan Geopolitik
Ekspor Kendaraan Listrik China Tembus Rekor 349.000 Unit di Tengah Gejolak Harga Minyak
Gibran Soroti Kerugian Rp 9.000 Triliun Akibat Manipulasi Faktur Ekspor-Impor