Maka, akses air bersih pun jadi fokus utama. Saat ini, layanan air perpipaan baru dinikmati oleh 56 juta orang, atau sekitar 20 persen penduduk. Targetnya ambisius: 100 persen sambungan perpipaan pada 2045. Jalan masih panjang.
Kalau dilihat dari kapasitas tampung per kapita, angkanya hanya 71 meter kubik. Padahal, idealnya kita butuh 100 hingga 150 meter kubik. Itu artinya, kapasitas harus ditambah 1,5 hingga 2 kali lipat dari kondisi sekarang.
Menghadapi semua ini, pemerintah berjanji akan bergerak. Rencananya, akan ada penguatan konservasi dan penambahan kapasitas tampung air. Caranya? Melalui pembangunan dan perluasan bendungan, kolam retensi, serta pengembangan sistem untuk mengisi ulang air tanah. Pengendalian eksploitasi air tanah juga akan diperketat.
Krisis air sudah di depan mata. Langkah konkret tak bisa lagi ditunda.
Artikel Terkait
BGN Jelaskan Alasan Anggarkan Rp113 Miliar untuk Jasa Event Organizer
Inflasi AS Melonjak ke Level Tertinggi Setahun Akibat Konflik Iran dan Harga BBM
Wamenkominfo: Infrastruktur Telekomunikasi Kunci Utama AI untuk Dongkrak Pertanian
Stasiun JIS Ditargetkan Beroperasi Juni 2026, Diharapkan Reduksi Kemacetan