BMKG Prediksi El Nino Lemah hingga Moderat, Pemerintah Siapkan Antisipasi Kekeringan

- Minggu, 12 April 2026 | 12:20 WIB
BMKG Prediksi El Nino Lemah hingga Moderat, Pemerintah Siapkan Antisipasi Kekeringan

Kekeringan panjang mengintai lagi. BMKG baru-baru ini mengingatkan bahwa peluang munculnya fenomena El Nino di Indonesia pada paruh kedua tahun ini cukup besar. Kalau sudah bicara El Nino, yang terbayang biasanya cuaca terik dan musim kemarau yang berkepanjangan.

Secara sederhana, El Nino itu adalah fenomena memanasnya Suhu Muka Laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Nah, pemanasan ini bikin 'konsentrasi' pembentukan awan hujan bergeser jauh ke tengah samudra, meninggalkan wilayah kita dengan potensi hujan yang jauh berkurang. Akibatnya? Kekeringan. Fenomena ini punya siklus, biasanya muncul setiap 4 sampai 7 tahun sekali. Dampaknya jelas perlu diwaspadai sejak dini.

Prediksi untuk 2026: Waspada di Musim Kemarau

Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, membeberkan analisis terbaru. Hingga akhir Maret 2026, kondisi ENSO dan IOD masih netral. Tapi, model iklim yang mereka pantau menunjukkan tanda-tanda pergeseran.

“Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Nino berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80%, dan mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20%) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat,” katanya.

Namun begitu, Ardhasena mengingatkan soal 'spring predictability barrier'. Intinya, prediksi iklim di sekitar bulan Maret-April ini akurasinya cenderung turun. Baru nanti di bulan Mei, tingkat kepercayaan terhadap prediksi intensitas El Nino akan jauh lebih tinggi. Prediksi Mei itu biasanya bisa diandalkan untuk melihat kondisi hingga enam bulan ke depan.

Meski detail intensitasnya masih akan berkembang, pesannya jelas: bersiaplah untuk musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dari biasanya tahun depan. Ini bukan cuma karena El Nino, tapi juga dipengaruhi variabilitas iklim alami di Indonesia sendiri.

Mengantisipasi Dampaknya

Lalu, apa yang sudah disiapkan? Pemerintah tak tinggal diam. Fokus utamanya ada dua: menjaga pasokan air dan memastikan stok pangan aman.

Pertama, soal air. Waduk-waduk besar jadi penopang utama, terutama di sentra pangan seperti Jawa Tengah. Ambil contoh Waduk Gajah Mungkur. Untuk menjaga kapasitasnya, berbagai upaya dilakukan. Empat kapal keruk dikerahkan untuk mengeruk endapan. Tiga 'closure dike' dibangun untuk menjebak sedimen dari sungai. Penanaman pohon di hulu juga digencarkan untuk memperbaiki daerah tangkapan air. Tak lupa, operasi hujan buatan siap dijalankan bila diperlukan.

Kedua, stok pangan. Pemerintah mengklaim cadangan kita cukup kuat. Stok beras gabungan dari Bulog, swasta, dan potensi panen yang masih berdiri di sawah jumlahnya sangat besar. Cadangan untuk komoditas lain juga diperkuat.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dampak El Nino terhadap ketahanan pangan nasional bisa diredam. Persoalan iklim memang tak bisa dihindari, tapi setidaknya kesiapsiagaan bisa mencegah krisis yang lebih luas.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar