Kekeringan panjang mengintai lagi. BMKG baru-baru ini mengingatkan bahwa peluang munculnya fenomena El Nino di Indonesia pada paruh kedua tahun ini cukup besar. Kalau sudah bicara El Nino, yang terbayang biasanya cuaca terik dan musim kemarau yang berkepanjangan.
Secara sederhana, El Nino itu adalah fenomena memanasnya Suhu Muka Laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Nah, pemanasan ini bikin 'konsentrasi' pembentukan awan hujan bergeser jauh ke tengah samudra, meninggalkan wilayah kita dengan potensi hujan yang jauh berkurang. Akibatnya? Kekeringan. Fenomena ini punya siklus, biasanya muncul setiap 4 sampai 7 tahun sekali. Dampaknya jelas perlu diwaspadai sejak dini.
Prediksi untuk 2026: Waspada di Musim Kemarau
Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, membeberkan analisis terbaru. Hingga akhir Maret 2026, kondisi ENSO dan IOD masih netral. Tapi, model iklim yang mereka pantau menunjukkan tanda-tanda pergeseran.
“Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Nino berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80%, dan mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20%) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat,” katanya.
Namun begitu, Ardhasena mengingatkan soal 'spring predictability barrier'. Intinya, prediksi iklim di sekitar bulan Maret-April ini akurasinya cenderung turun. Baru nanti di bulan Mei, tingkat kepercayaan terhadap prediksi intensitas El Nino akan jauh lebih tinggi. Prediksi Mei itu biasanya bisa diandalkan untuk melihat kondisi hingga enam bulan ke depan.
Artikel Terkait
Penjualan Mobil Nasional Anjlok 13,8% pada Maret 2026, Libur Panjang Jadi Penyebab
Dukcapil: Proses Cetak Ulang e-KTP Hilang Gratis dan Tanpa Surat RT/RW
Oknum Bhabinkamtibmas Grobogan Diamankan Usai Viral Minta Uang Keamanan ke Ibu-ibu
Polisi Karawang Amankan Mobil Pelaku Tabrak Lari Usai Video Viral