Meski begitu, antusiasme terhadap forum ini ternyata tidak merata. Di satu sisi, sejumlah negara seperti Mesir, Arab Saudi, Qatar, Turki, dan Indonesia sepakat bergabung. Namun di sisi lain, sekutu-sekutu tradisional AS di Barat justru terlihat lebih hati-hati. Mereka masih mempertanyakan, apa sebenarnya peran Board of Peace ini dan bagaimana ia tidak akan tumpang-tindih dengan fungsi PBB yang sudah ada.
Fokus utama pertemuan perdana ini memang akan tertuju pada Gaza. Isu ini sendiri masih sangat rentan. Memang, Israel dan Hamas sama-sama sudah menyetujui rencana perdamaian Trump yang diumumkan tahun 2025 lalu, yang kemudian diikuti gencatan senjata sejak 10 Oktober.
Tapi keadaan di lapangan masih tegang. Gencatan senjata itu, yang kini masuk fase kedua, kondisinya sangat rapuh. Hamas bersikukuh menolak tuntutan untuk meletakkan senjata, terutama dengan alasan Israel masih kerap melakukan pelanggaran.
Israel punya jawaban sendiri untuk penolakan itu. Mereka sudah mengancam: kalau Hamas tidak mau meletakkan senjata dengan sukarela, maka militer Israel yang akan memaksa mereka melakukannya.
Jadi, pertemuan di Washington nanti bukan sekadar acara seremonial. Ia berlangsung di tengah situasi yang masih sangat mudah meledak.
Artikel Terkait
Ekspor Mesin Listrik dan Panel Surya Pacu Pertumbuhan Dagang Indonesia-AS
Iran Ajukan Empat Syarat ke AS untuk Hentikan Perang di Timur Tengah
Laba Bersih Jamkrindo Syariah Melonjak 160% Jadi Rp141 Miliar pada 2025
DJP Catat Lebih dari 10,5 Juta SPT Tahunan Dilaporkan hingga Tenggat Maret 2026