Pelatih Persebaya Soroti Ujian Mental Jelang Laga Berat Kontra Persita

- Rabu, 01 April 2026 | 21:30 WIB
Pelatih Persebaya Soroti Ujian Mental Jelang Laga Berat Kontra Persita

Atmosfer di Makassar terasa berbeda menjelang laga nanti. Bernardo Tavares, pelatih Persebaya, justru terlihat lebih kalem. Ia dengan sengaja menurunkan ekspektasi. Bukan karena tak percaya diri, tapi ia melihat realitas di depan mata. Laga kontra Persita Tangerang di pekan ke-26 BRI Super League ini bakal jauh lebih berat ketimbang pertemuan pertama.

Waktu itu, Persebaya menang tipis 1-0. Tapi menurut Tavares, mengandalkan memori itu adalah kesalahan besar. Sepak bola selalu berubah. Dan Persita yang akan dihadapi Sabtu malam nanti, jelas bukan tim yang sama.

Mereka punya momentum. Itu yang berbahaya. Kemenangan gemilang 4-1 atas Madura United sebelum jeda kompetisi bukan sekadar angka. Itu adalah suntikan kepercayaan diri yang luar biasa. Ada energi baru yang mengalir, sesuatu yang membuat performa mereka melesat naik.

Di sisi lain, Persebaya justru terbebani. Kekalahan di laga terakhir masih terasa menyisakan jejak. Bekasnya masih ada. Dalam situasi seperti ini, Tavares tak banyak bicara soal formasi atau taktik canggih. Ia malah menyoroti hal yang sering dianggap sepele: mental.

Bagi pelatih asal Portugal itu, mental adalah fondasi segalanya. Tanpa itu, skema permainan secanggih apa pun akan ambruk saat tekanan datang. Sepak bola modern menuntut ketangguhan berpikir, bukan hanya kecepatan lari.

“Kepercayaan diri tidak datang secara instan,”

begitu kira-kira prinsip yang dipegangnya. Butuh proses. Butuh latihan berulang, evaluasi tanpa tedeng aling-aling, dan keberanian untuk bangkit dari kegagalan. Itulah yang jadi fokus latihan Persebaya belakangan ini.

Tapi tentu saja, membangun mental bukan berarti mengabaikan hal teknis. Justru sebaliknya. Tavares menekankan, keduanya harus sejalan. Ia menyoroti satu hal krusial yang sering luput: pengambilan keputusan di lapangan.

Satu keputusan yang terlambat saat menyerang, bisa menghancurkan peluang emas. Satu kesalahan membaca permainan saat bertahan, berujung gol lawan. Detail-detail kecil seperti posisi tubuh tanpa bola, transisi dari serang ke bertahan, dan koordinasi antar lini, jadi perhatian serius.

Nama-nama seperti Bruno Moreira dan kawan-kawan pun mendapat sorotan khusus. Mereka dituntut untuk lebih disiplin, lebih cermat, dan yang utama, konsisten dari menit pertama hingga peluit akhir. Tavares ingin intensitas timnya terjaga utuh, bukan cuma muncul sesekali.

Pertandingan di Stadion Gelora Bung Tomo nanti, lebih dari sekadar perburuan tiga poin. Ini adalah ujian karakter. Bagaimana Persebaya merespons tekanan, baik dari luar maupun dari dalam diri mereka sendiri.

Di kompetisi yang semakin ketat seperti sekarang, setiap laga punya bobot nyaris setara final. Lengah sedikit, konsekuensinya bisa fatal. Tidak ada lagi ruang untuk harapan kosong. Semua harus diperjuangkan dengan keringat dan kerja nyata di lapangan hijau.

Tavares paham betul posisinya. Ia tak menggembar-gemborkan janji kemenangan. Alih-alih, ia menekankan hal yang lebih mendasar: keinginan untuk menang harus dibuktikan dengan aksi, bukan wacana.

Sikapnya ini terasa pragmatis, bahkan reflektif. Di tengah hingar-bingar retorika optimisme yang biasa kita dengar, ia memilih jalan yang lebih sunyi. Mengakui kelemahan, memahami tantangan, lalu membangun kembali pondasi timnya dari sana.

Jadi, laga melawan Persita nanti bukan cuma soal teknik atau fisik semata. Ini lebih tentang kesiapan mental. Tentang disiplin menjalankan rencana. Tentang ketahanan menghadapi tekanan setiap menitnya.

Dan di situlah nasib Persebaya akan ditentukan. Bukan oleh sejarah pertemuan sebelumnya, tapi oleh apa yang mereka ukir dalam 90 menit mendatang. Semuanya masih terbuka.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar