Krisis Air di Nunukan, Perumda Tirta Taka Terapkan Sistem Giliran

- Rabu, 01 April 2026 | 23:00 WIB
Krisis Air di Nunukan, Perumda Tirta Taka Terapkan Sistem Giliran

Oleh: Ahmad Albar


TVRINews, Kalimantan Utara

Hawa panas yang terik masih menyelimuti Kabupaten Nunukan. Dampaknya mulai terasa nyata, terutama pada sumber air baku di Embung Bolong yang kian menyusut. Menghadapi situasi ini, Perumda Air Minum Tirta Taka pun tak tinggal diam. Mereka bergerak cepat untuk memastikan pasokan air bersih ke warga tetap bisa mengalir, meski dengan cara yang berbeda dari biasanya.

Debit air di Embung Bolong saat ini anjlok drastis. Kalau normalnya bisa mencapai 87 sampai 100 liter per detik, sekarang angkanya cuma sekitar 50 liter per detik. Penurunan yang cukup signifikan, bukan main.

Muhammad Isa, Supervisor Transmisi dan Distribusi (Trandist) Perumda Tirta Taka, mengakui kondisi ini sangat mempengaruhi layanan.

“Penurunannya sangat drastis,” ujarnya, Rabu (1/4/2026). “Pendistribusian kami terdampak, terutama di daerah selatan dan kota. Untuk mengatasinya, kami terpaksa membagi jadi dua zonasi.”

Jadi, skema giliran pun diterapkan. Layanan air dibagi dua: untuk wilayah Kota Nunukan dan Kecamatan Nunukan Selatan. Masing-masing zona akan mendapat aliran air secara bergantian setiap dua hari sekali. Semacam sistem ‘jatah’ darurat, lah.

Di sisi lain, kondisi Embung Bilal masih cukup aman. Sumber air yang satu ini diperkirakan masih bisa menopang kebutuhan untuk sekitar sebulan ke depan. Sedikit kabar baik di tengah kekhawatiran.

Sayangnya, harapan akan hujan untuk mengisi kembali Embung Bolong tampaknya masih jauh. Prakiraan cuaca untuk sepekan mendatang di Nunukan menunjukkan langit tetap cerah, tanpa potensi hujan yang berarti.

Karena itu, imbauan pun disampaikan. Perumda Tirta Taka meminta masyarakat bisa lebih bijak dan hemat menggunakan air selama masa-masa sulit ini. Kerja sama dari semua pihak sangat dibutuhkan agar distribusi yang terbatas ini bisa dirasakan secara merata oleh seluruh warga.

Intinya, situasinya memang tidak ideal. Tapi dengan penyesuaian dan kesadaran bersama, krisis ini diharapkan bisa dilalui.


Editor: Redaktur TVRINews

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar