Gejolak Iran dan Bayang-Bayang Disrupsi Industri
Konflik di Timur Tengah, tepatnya di Iran, lagi-lagi mengguncang pasar global. Di Jakarta, getarannya mulai terasa. Banyak yang langsung khawatir soal harga BBM yang bakal melonjak. Tapi, menurut sejumlah pengamat, ada ancaman lain yang lebih mengkhawatirkan di balik naiknya harga minyak itu.
Ancaman itu adalah terganggunya rantai pasok bahan baku industri. Bayangkan, produksi dalam negeri tiba-tiba mandek karena bahan bakunya tak kunjung datang.
Ekonom Anthony Budiawan dengan tegas menyoroti hal ini. Menurutnya, kenaikan harga masih bisa diatasi. Yang bikin pusing adalah kalau pasokannya benar-benar putus.
“Naik saja sebetulnya dalam kondisi sekarang ini tidak begitu menjadi masalah. Yang masalah adalah kalau tidak ada bahan bakunya. Jangan sampai terjadi disrupsi sektor manufaktur di mana mereka tidak bisa produksi dan kemudian harus mengurangi tenaga kerja atau PHK,”
Ujarnya dalam sebuah tayangan televisi, Selasa lalu. Ia mencontohkan pasokan aluminium dari Qatar dan turunan gas alam cair, yang merupakan nyawa bagi banyak pabrik di sini. Gangguan kecil saja bisa memicu force majeure penghentian produksi paksa.
Beberapa sektor seperti tekstil dan makanan-minuman sudah mulai merasakan tekanan, terutama untuk bahan baku kemasan plastik. Situasinya memang belum kritis, tapi sinyalnya sudah ada.
Di tengah situasi ini, Anthony melihat sisi positif dari kebijakan kerja dari rumah atau WFH yang pernah diterapkan. Kebijakan itu ternyata punya efek samping yang bagus: menghemat energi. Cadangan BBM nasional, katanya, bisa bertahan lebih lama, dari sekitar 20 hari menjadi hampir 40 hari. Lumayan untuk bernapas sejenak.
Namun begitu, tidak semua orang melihat situasi dengan mata yang sama.
Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier justru bersikap lebih optimis. Ia menilai posisi Indonesia relatif aman. Alasannya? Kita punya simpanan komoditas tambang yang laku di pasar global.
“Krisis hasil tambang kemungkinan besar akan naik harganya, seperti batu bara. Jadi kemungkinan terkompensasi secara ekonomi nasional,”
jelas Fuad. Jadi, kenaikan harga batu bara, nikel, dan tembaga bisa jadi penopang devisa, mengimbangi tekanan di sisi lain. Soal pasokan BBM, ia juga meyakinkan bahwa stok masih cukup dan masalah distribusi kapal tanker sudah ditangani lewat diplomasi.
Sementara itu, dari pihak pemerintah, ada penegasan yang cukup menenangkan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan Presiden Prabowo Subianto berkomitmen untuk tidak menaikkan harga BBM, baik yang subsidi maupun non-subsidi. Keputusan ini diambil setelah berkoordinasi dengan Kementerian ESDM dan Pertamina, semata-mata untuk melindungi daya beli rakyat di tengah ketidakpastian ini.
Jadi, apa pelajaran yang bisa diambil? Ketegangan geopolitik seperti ini bukan cuma soal angka di pom bensin. Efeknya bisa merayap pelan, menyusup ke jantung industri. Ia bagai retakan kecil di tembok tampak sepele, tapi jika diabaikan bisa berakibat besar. Kini, semua mata tertuju pada kelancaran rantai pasok dan langkah antisipasi berikutnya.
Artikel Terkait
Selebgram Woodyrman Jadi Tersangka Penganiayaan yang Tewaskan Warga Brunei di Blok M
Persona Prima Utama Buka 12 Formasi Pekerjaan Perbankan di 13 Wilayah Jawa Barat
MK Tegaskan Sanksi Gugurkan Parpol Jika Kuota Caleg Perempuan 30 Persen Tak Terpenuhi
Trump Ancam Bombardir Oman Jika Berkolaborasi dengan Iran Jaga Selat Hormuz