Israel Kirim Menlu Saar ke Pertemuan Perdana Dewan Perdamaian Gaza di Washington

- Minggu, 15 Februari 2026 | 11:50 WIB
Israel Kirim Menlu Saar ke Pertemuan Perdana Dewan Perdamaian Gaza di Washington

Israel Kirim Menlu Saar ke Pertemuan Perdana Dewan Perdamaian Gaza

Washington DC akan menjadi tuan rumah pertemuan pertama Dewan Perdamaian Gaza pada 19 Februari. Dan yang akan mewakili Israel di sana bukanlah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, melainkan Menteri Luar Negeri Gideon Saar.

Keikutsertaan Israel di forum yang disebut Board of Peace ini sebenarnya sudah dipastikan saat Netanyahu bertemu Presiden AS Donald Trump belum lama ini. Hanya saja, Netanyahu sendiri yang memilih absen.

Nah, pertemuan di Washington nanti kabarnya bakal membahas agenda-agenda besar. Menurut sejumlah pejabat AS yang berbicara kepada Reuters, salah satu pokok pembicaraan adalah rencana rekonstruksi Gaza yang nilainya mencapai miliaran dolar AS. Trump sendiri dikabarkan akan memberikan penjelasan detail soal pengiriman Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) yang sudah dapat mandat PBB.

“Presiden Trump rencananya akan mengumumkan beberapa negara yang bersedia mengirim ribuan personelnya di bawah ISF,” ujar seorang sumber pejabat, seraya menambahkan bahwa pasukan itu diharapkan bisa dikerahkan ke Gaza dalam hitungan bulan ke depan.

Delegasi dari sedikitnya 20 negara, termasuk beberapa kepala negara, diperkirakan memadati acara tersebut. Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Mesir Abdel Fattah El Sisi sudah mengiyakan untuk hadir.

Meski begitu, antusiasme terhadap forum ini ternyata tidak merata. Di satu sisi, sejumlah negara seperti Mesir, Arab Saudi, Qatar, Turki, dan Indonesia sepakat bergabung. Namun di sisi lain, sekutu-sekutu tradisional AS di Barat justru terlihat lebih hati-hati. Mereka masih mempertanyakan, apa sebenarnya peran Board of Peace ini dan bagaimana ia tidak akan tumpang-tindih dengan fungsi PBB yang sudah ada.

Fokus utama pertemuan perdana ini memang akan tertuju pada Gaza. Isu ini sendiri masih sangat rentan. Memang, Israel dan Hamas sama-sama sudah menyetujui rencana perdamaian Trump yang diumumkan tahun 2025 lalu, yang kemudian diikuti gencatan senjata sejak 10 Oktober.

Tapi keadaan di lapangan masih tegang. Gencatan senjata itu, yang kini masuk fase kedua, kondisinya sangat rapuh. Hamas bersikukuh menolak tuntutan untuk meletakkan senjata, terutama dengan alasan Israel masih kerap melakukan pelanggaran.

Israel punya jawaban sendiri untuk penolakan itu. Mereka sudah mengancam: kalau Hamas tidak mau meletakkan senjata dengan sukarela, maka militer Israel yang akan memaksa mereka melakukannya.

Jadi, pertemuan di Washington nanti bukan sekadar acara seremonial. Ia berlangsung di tengah situasi yang masih sangat mudah meledak.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar