Namun begitu, ultimatum bukan satu-satunya senjata. Pemerintah punya beberapa strategi lain. Misalnya, menghidupkan kembali sumur-sumur tua dengan teknologi mutakhir dan kerja sama dengan mitra. Lalu, menawarkan blok yang tak digarap ke investor lain, baik dalam maupun luar negeri. Yang menarik, ada wacana melegalkan sumur rakyat yang jumlahnya diperkirakan mencapai 45 ribu unit agar bisa menyumbang produksi sekaligus menggerakkan ekonomi warga.
Semua percepatan ini krusial. Soalnya, ketergantungan kita pada impor energi masih sangat besar, terutama untuk BBM dan LPG. Meningkatkan produksi dalam negeri dianggap kunci untuk mengurangi beban impor dan membangun ketahanan energi jangka panjang.
Bagi Bahlil, ini lebih dari sekadar penertiban administratif. Ini soal strategi ekonomi nasional.
"Sumber daya alam harus dikelola optimal untuk kepentingan rakyat,"
katanya menegaskan.
Targetnya ambisius tapi jelas: kombinasi peningkatan lifting migas, hilirisasi, dan percepatan investasi diharapkan bisa jadi mesin pertumbuhan baru. Sekaligus, tentu saja, mengurangi ketergantungan pada energi impor yang selama ini membebani. Langkahnya sudah di depan mata, tinggal eksekusinya.
Artikel Terkait
Rosan Roeslani: Efisiensi Energi BUMN Tak Ganggu Layanan, Justru Pacu Investasi EBT
LPS Mulai Verifikasi Nasabah BPR Pembangunan Nagari Usai Pencabutan Izin OJK
KPK Perpanjang Penahanan Mantan Menag Yaqut 40 Hari
Gus Ipul: 625 Ribu Peserta BPJS Penerima Bantuan Iuran Kembali Diaktifkan