Di sisi lain, Ruang Terbuka Biru punya peran tak kalah krusial. Sungai, danau, waduk, hingga kawasan pesisir berfungsi mengelola air hujan secara alami, mengendalikan banjir, dan tentu saja, melindungi ekosistem di dalamnya.
Lalu, apa kunci sukses gerakan sebesar ini? Menko AHY menyodorkan tiga prinsip utama.
Pertama, kolaborasi. Harus melibatkan semua pihak: pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, hingga media. Harus ada orkestrasi kerja yang solid.
Kedua, semuanya harus berbasis data. Pendataan RTH dan RTB harus jelas, terverifikasi secara geospasial, dan bisa dipantau perkembangannya dari waktu ke waktu.
Ketiga, yang paling penting: berbasis dampak. Keberhasilannya harus terukur dari manfaat nyata yang dirasakan warga. Apakah suhu kota turun? Risiko banjir berkurang? Udara lebih bersih? Kesehatan masyarakat membaik? Ekonomi lokal tumbuh?
AHY juga punya pandangan lain. Ruang terbuka jangan sampai dipandang sebagai area pasif yang cuma jadi pajangan.
Taman kota yang tertata, kawasan "waterfront" yang asri, ruang publik yang nyaman semua itu bisa jadi pusat produktivitas. Bisa mendorong aktivitas ekonomi kreatif, atau bahkan jadi destinasi wisata urban yang meningkatkan nilai kawasan.
Di akhir penyampaiannya, AHY mengajak semua pihak untuk terlibat aktif. “Kuncinya adalah bersama,” serunya.
“Tidak ada satu institusi pun yang bisa menyelesaikan tantangan ini sendirian. Mari kita mulai dari hal sederhana. Kurangi sampah, bersihkan lingkungan sekitar, buka ruang-ruang hijau baru, dan rawat yang sudah ada. Semua demi kualitas hidup yang lebih baik.”
Artikel Terkait
Herdman Soroti Minim Kreativitas, Nantikan Miliano dan Marselino
Puspom TNI Ajukan Permintaan Resmi untuk Periksa Andrie Yunus di Bawah LPSK
Menteri ESDM Pastikan Stok BBM Nasional Aman, Proyeksi Surplus Solar dengan B50
Presiden Prabowo Berduka, Tiga Pasukan Perdamaian TNI Gugur di Lebanon Selatan