Pemerintah Luncurkan Gerakan Nasional Pengembangan Ruang Terbuka Hijau dan Biru

- Sabtu, 14 Februari 2026 | 06:40 WIB
Pemerintah Luncurkan Gerakan Nasional Pengembangan Ruang Terbuka Hijau dan Biru

Jakarta diguyur hujan deras Jumat siang itu, tapi di dalam tenda utama Tebet Eco Park, semangatnya justru sedang panas-panasnya. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, baru saja secara resmi meluncurkan Gerakan Nasional Pengembangan Ruang Terbuka Hijau dan Biru, atau Galang RTHB. Gerakan ini jadi wujud nyata dari instruksi Presiden Prabowo Subianto soal Gerakan Indonesia ASRI Aman, Sehat, Resik, dan Indah.

Acara yang digelar tanggal 13 Februari 2026 ini bukan sekadar seremoni belaka. Menurut AHY, ini adalah komitmen konkret pemerintah untuk membenahi lingkungan perkotaan, membuatnya lebih tertata, sehat, dan tentu saja, berkelanjutan untuk masa depan.

“Ini bukan program sektoral biasa,” tegas AHY dalam sambutannya.

“Ini kebutuhan mendasar. Bahkan sudah diamanatkan undang-undang, termasuk soal target 30 persen ruang terbuka hijau di kota-kota kita,” lanjutnya.

Dia memaparkan, ruang hijau dan biru punya peran yang jauh lebih vital dari sekadar pemandangan. Di tengah ancaman emisi karbon yang makin menjadi, kehadiran mereka adalah bagian dari strategi dekarbonisasi. Upaya menuju net zero emission, sekaligus menciptakan kota yang layak huni.

“Fungsinya jelas: meningkatkan kualitas hidup. Menyediakan ruang publik yang sehat, tempat masyarakat bisa produktif dan kreatif,” ujar AHY.

Gerakan ini akan dijalankan dari Aceh sampai Papua, menyentuh kota dan kabupaten. Fokus utamanya memang di perkotaan, mengingat tren urbanisasi global yang kian masif. Diperkirakan, sekitar 70 persen penduduk akan tinggal di kota.

Namun begitu, tekanan di kota-kota kita juga nyata. Suhu yang terus naik, udara yang makin pengap, ancaman banjir karena hujan ekstrem semua itu jadi alasan kuat kenapa ruang terbuka harus diperbanyak. AHY menegaskan, RTH dan RTB adalah instrumen mitigasi bencana. Fondasi untuk ketahanan iklim.

Secara fungsional, Ruang Terbuka Hijau seperti taman kota, hutan kota, atau jalur hijau punya tugas penting. Menurunkan suhu panas, menyerap karbon, menyaring polusi, plus jadi tempat masyarakat bersosialisasi.

Di sisi lain, Ruang Terbuka Biru punya peran tak kalah krusial. Sungai, danau, waduk, hingga kawasan pesisir berfungsi mengelola air hujan secara alami, mengendalikan banjir, dan tentu saja, melindungi ekosistem di dalamnya.

Lalu, apa kunci sukses gerakan sebesar ini? Menko AHY menyodorkan tiga prinsip utama.

Pertama, kolaborasi. Harus melibatkan semua pihak: pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, hingga media. Harus ada orkestrasi kerja yang solid.

Kedua, semuanya harus berbasis data. Pendataan RTH dan RTB harus jelas, terverifikasi secara geospasial, dan bisa dipantau perkembangannya dari waktu ke waktu.

Ketiga, yang paling penting: berbasis dampak. Keberhasilannya harus terukur dari manfaat nyata yang dirasakan warga. Apakah suhu kota turun? Risiko banjir berkurang? Udara lebih bersih? Kesehatan masyarakat membaik? Ekonomi lokal tumbuh?

AHY juga punya pandangan lain. Ruang terbuka jangan sampai dipandang sebagai area pasif yang cuma jadi pajangan.

Taman kota yang tertata, kawasan "waterfront" yang asri, ruang publik yang nyaman semua itu bisa jadi pusat produktivitas. Bisa mendorong aktivitas ekonomi kreatif, atau bahkan jadi destinasi wisata urban yang meningkatkan nilai kawasan.

Di akhir penyampaiannya, AHY mengajak semua pihak untuk terlibat aktif. “Kuncinya adalah bersama,” serunya.

“Tidak ada satu institusi pun yang bisa menyelesaikan tantangan ini sendirian. Mari kita mulai dari hal sederhana. Kurangi sampah, bersihkan lingkungan sekitar, buka ruang-ruang hijau baru, dan rawat yang sudah ada. Semua demi kualitas hidup yang lebih baik.”

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar