MURIANETWORK.COM - Sebuah sumur berusia lebih dari enam setengah abad di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, masih tegak sebagai penanda sejarah dan budaya. Sumur Laccokkong, peninggalan Kerajaan Bone dari abad ke-15, tidak hanya merupakan struktur fisik, tetapi juga situs sakral yang telah menyaksikan dan menjadi bagian dari ritual penting kerajaan selama ratusan tahun.
Kisah Pelarian yang Melahirkan Sebuah Nama
Asal-usul Sumur Laccokkong terjalin dengan kisah pelarian La Saliyu Korampelua, yang kelak dinobatkan sebagai Raja Bone ketiga. Dalam pelariannya, sang pangeran mengalami kehausan yang amat sangat. Seorang pengawal setia kemudian memberinya air dari sebuah mata air yang ditemukan. Setelah meminumnya, kondisi La Saliyu pulih dengan cepat. Ia langsung bangkit dan mendongakkan kepalanya gerakan yang dalam bahasa Bugis disebut "cokkong". Peristiwa inilah yang kemudian melekat menjadi nama sumur tersebut: Bubung (Sumur) Laccokkong.
Peran Sakral dalam Tradisi Kerajaan
Lebih dari sekadar sumber air, Laccokkong menempati posisi sentral dalam kehidupan adat istiadat Kerajaan Bone. Sumur ini merupakan salah satu dari tiga sumur utama kerajaan yang airnya disucikan untuk berbagai ritual penting. Praktik ini bertahan dalam ingatan kolektif masyarakat hingga hari ini.
Artikel Terkait
Ibu dan Anak Diduga Mencebur ke Sungai Tonjung, Pencarian Berlanjut
Rieke Diah Pitaloka Dorong Perlindungan Pembela HAM Masuk RUU Saksi dan Korban
Polisi Tangkap Pelaku Penganiayaan dengan Parang di Makassar Usai Buron Sepekan
Jaksa Penuntut Kasus Mark Up Video Desa Dipertanyakan di DPR