Sumur Laccokkong di Bone, Saksi Bisu Ritual Kerajaan Abad ke-15

- Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:00 WIB
Sumur Laccokkong di Bone, Saksi Bisu Ritual Kerajaan Abad ke-15

MURIANETWORK.COM - Sebuah sumur berusia lebih dari enam setengah abad di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, masih tegak sebagai penanda sejarah dan budaya. Sumur Laccokkong, peninggalan Kerajaan Bone dari abad ke-15, tidak hanya merupakan struktur fisik, tetapi juga situs sakral yang telah menyaksikan dan menjadi bagian dari ritual penting kerajaan selama ratusan tahun.

Kisah Pelarian yang Melahirkan Sebuah Nama

Asal-usul Sumur Laccokkong terjalin dengan kisah pelarian La Saliyu Korampelua, yang kelak dinobatkan sebagai Raja Bone ketiga. Dalam pelariannya, sang pangeran mengalami kehausan yang amat sangat. Seorang pengawal setia kemudian memberinya air dari sebuah mata air yang ditemukan. Setelah meminumnya, kondisi La Saliyu pulih dengan cepat. Ia langsung bangkit dan mendongakkan kepalanya gerakan yang dalam bahasa Bugis disebut "cokkong". Peristiwa inilah yang kemudian melekat menjadi nama sumur tersebut: Bubung (Sumur) Laccokkong.

Peran Sakral dalam Tradisi Kerajaan

Lebih dari sekadar sumber air, Laccokkong menempati posisi sentral dalam kehidupan adat istiadat Kerajaan Bone. Sumur ini merupakan salah satu dari tiga sumur utama kerajaan yang airnya disucikan untuk berbagai ritual penting. Praktik ini bertahan dalam ingatan kolektif masyarakat hingga hari ini.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar