Beijing punya pandangan yang sangat jelas soal Taiwan. Mereka menegaskan pulau itu adalah bagian integral dari wilayahnya, dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan untuk reunifikasi. Setelah komentar Takaichi, serangkaian tindakan pembalasan pun dilancarkan Tiongkok.
Mulai dari memanggil duta besar Jepang di Beijing, mengeluarkan peringatan perjalanan untuk warganya, hingga menggelar latihan udara bersama Rusia. Bahkan, dua panda terakhir di Jepang pun dipulangkan bulan lalu sebuah langkah simbolis yang sarat pesan politik.
Di sisi lain, insiden militer juga sudah terjadi. Pada Desember lalu, jet tempur J-15 dari kapal induk Liaoning milik Tiongkok dilaporkan mengunci radar pada pesawat Jepang di dekat Okinawa. Belum lagi kebijakan Tiongkok yang memperketat ekspor barang-barang strategis ke Jepang, yang memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan mineral langka.
Juru Bicara Pemerintah Jepang, Minoru Kihara, menegaskan sikap tegas negaranya.
"Untuk mencegah operasi penangkapan ikan ilegal oleh kapal asing, kami akan terus mengambil tindakan tegas,"
katanya. Sampai saat ini, pemerintah Tiongkok sendiri masih bungkam, belum memberikan komentar resmi terkait penangkapan kapal ikannya. Situasinya jelas rentan. Insiden kecil di laut bisa dengan cepat berubah menjadi percikan api yang lebih besar, memperburuk persaingan strategis yang sudah runyam antara dua raksasa Asia ini.
Artikel Terkait
Pemerintah Belum Ubah Batas Harga Tiket Pesawat Meski Tekanan Biaya Operasional Meningkat
Komnas HAM Kaji Berbagai Opsi Penanganan Kasus Penyiranan Aktivis KontraS
Prabowo Undang Pengusaha Jepang Tingkatkan Investasi di Indonesia
Prabowo Buka Pintu Investasi Lebar-Lebar untuk Jepang di Tokyo