Beban usaha di Indonesia masih terasa berat. Itulah keluhan yang disuarakan Apindo, yang kini menanti langkah konkret pemerintah untuk meringankannya. Dua isu utama yang terus jadi sorotan: biaya logistik yang membengkak dan suku bunga pinjaman yang belum juga turun.
Wakil Ketua Umum Apindo, Sanny Iskandar, tak menampik bahwa situasi ini menciptakan apa yang disebutnya sebagai high cost economy. Akibatnya, produk barang dan jasa lokal kesulitan bersaing, baik di pasar domestik maupun internasional.
"Yang kami lihat masih ada namanya high cost economy, sehingga produk atas barang dan jasa yang kami create itu kompetisinya (daya saing jual) kurang,"
ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis lalu.
Menurut Sanny, setidaknya ada empat faktor pemicu. Pertama, ya soal logistik itu tadi. Beban logistik di negeri ini disebutnya masih mentok di angka lebih dari 16 persen dari total beban. Padahal, idealnya harus bisa ditekan hingga satu digit. Kalau ini berhasil, Harga Pokok Penjualan (HPP) bakal jauh lebih efisien.
Dengan HPP yang lebih rendah, daya saing produk lokal tentu bisa ditingkatkan. Bukan cuma melawan produk impor, tapi juga bersaing dengan negara-negara tetangga.
"Sehingga kami bisa bersaing dengan Vietnam misalnya. Kenapa Vietnam industrialisasinya luar biasa, apalagi China? Karena mereka bisa membentuk sebuah closed-loop ecosystem yang terbiayai oleh logistik, itu enggak terlalu membebani. Idealnya di single digit beban logistik terhadap total beban,"
jelas Sanny.
Faktor kedua tak kalah pelik: pembiayaan. Sektor usaha masih mengeluhkan tingginya suku bunga kredit dari perbankan. Padahal, untuk ekspansi bisnis dan meningkatkan skala produksi, akses modal dengan bunga yang wajar adalah kunci utamanya.
"Ketika cost of fund-nya diturunkan, maka daya saingnya otomatis menjadi lebih baik. Karena kita berbicara bersaing dengan Malaysia yang mereka sudah kasih bunga 4-6 persen setahun. Singapura bisa 2-4 persen. Kita masih 8-12 persen misalnya,"
tuturnya membandingkan.
Lalu yang ketiga, ongkos energi. Di sini pun industri Indonesia masih terbebani. Biayanya disebut Sanny masih sekitar 30 persen lebih mahal dibandingkan negara pesaing di kawasan Asia Tenggara, termasuk Vietnam. Penurunan harga energi jelas akan memberi angin segar bagi kompetitivitas.
Terakhir, persoalan mendasar: sumber daya manusia. Kualitas produktivitas dan daya saing tenaga kerja dalam negeri dinilai masih perlu ditingkatkan. SDM unggul, menurut Sanny, adalah tulang punggung yang sangat dibutuhkan, terutama saat industri sedang dalam fase merintis dan mengembangkan bisnisnya.
Jadi, keempat hal inilah yang menurut Apindo perlu segera diintervensi. Agar iklim usaha tak lagi terasa seperti medan perang yang penuh rintangan, melainkan lahan subur untuk bertumbuh.
Artikel Terkait
Gubernur DKI Tegaskan Pelayanan Publik Tak Boleh Terganggu Saat WFA Idulfitri
Kemnaker Tegaskan Belum Ada Keputusan Resmi Soal BSU 2026
Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8% dalam Lima Tahun, Andalkan Industri dan Daya Saing
Wamenkeu Nilai Penyaluran UMi di Solo Masih Terlalu Kecil