jelas Sanny.
Faktor kedua tak kalah pelik: pembiayaan. Sektor usaha masih mengeluhkan tingginya suku bunga kredit dari perbankan. Padahal, untuk ekspansi bisnis dan meningkatkan skala produksi, akses modal dengan bunga yang wajar adalah kunci utamanya.
"Ketika cost of fund-nya diturunkan, maka daya saingnya otomatis menjadi lebih baik. Karena kita berbicara bersaing dengan Malaysia yang mereka sudah kasih bunga 4-6 persen setahun. Singapura bisa 2-4 persen. Kita masih 8-12 persen misalnya,"
tuturnya membandingkan.
Lalu yang ketiga, ongkos energi. Di sini pun industri Indonesia masih terbebani. Biayanya disebut Sanny masih sekitar 30 persen lebih mahal dibandingkan negara pesaing di kawasan Asia Tenggara, termasuk Vietnam. Penurunan harga energi jelas akan memberi angin segar bagi kompetitivitas.
Terakhir, persoalan mendasar: sumber daya manusia. Kualitas produktivitas dan daya saing tenaga kerja dalam negeri dinilai masih perlu ditingkatkan. SDM unggul, menurut Sanny, adalah tulang punggung yang sangat dibutuhkan, terutama saat industri sedang dalam fase merintis dan mengembangkan bisnisnya.
Jadi, keempat hal inilah yang menurut Apindo perlu segera diintervensi. Agar iklim usaha tak lagi terasa seperti medan perang yang penuh rintangan, melainkan lahan subur untuk bertumbuh.
Artikel Terkait
Ekonom: Belanja Lain-Lain Rp200 Triliun Jadi Bantalan Fiskal di APBN 2026
Kepala BGN Tegaskan Anggaran 2026 Rp268 Triliun, Bukan Rp335 Triliun
Instagram Uji Coba Fitur Berlangganan untuk Tonton Stories Diam-diam
Harga BBM Non-Subsidi di Jakarta Masih Stabil, Tak Ada Kenaikan