Argumennya, langkah itu akan meringankan pembayaran pokok dan bunga utang. Namun begitu, realitanya AS sudah lebih dari dua dekade terperangkap dalam defisit. Terakhir kali mereka mencatatkan surplus anggaran adalah way back in 2001. Sejak itu, pengeluaran selalu lebih besar daripada pemasukan. Tahun demi tahun, lubangnya makin dalam.
Kondisi ini jelas bikin para kreditor waswas. Meningkatnya utang federal akan memaksa pemerintah menerbitkan obligasi Treasury dalam volume besar. Alhasil, investor kemungkinan bakal menuntut imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko gagal bayar yang juga meningkat.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Moody's, salah satu lembaga pemeringkat ternama, sudah menurunkan peringkat kredit AS bulan Mei lalu. Dari Aaa, mereka turunkan satu tingkat jadi Aa1. Ini seperti sinyal lampu kuning bagi pasar keuangan global.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama peringkat AS diturunkan. Moody's hanya yang terbaru. S&P sudah lebih dulu melakukannya pada 2011, disusul Fitch tahun 2033. Polanya berulang, dan proyeksi utang 64 triliun dolar itu mungkin akan membuat sinyal itu bergerak dari kuning ke merah. Masa depan fiskal Amerika, setidaknya menurut angka-angka, terlihat berat.
Artikel Terkait
Pertamina Bantah Isu Kenaikan Harga Pertamax Jadi Rp 17.850
Anggota Komisi I DPR Kecam Serangan Israel yang Tewaskan Prajurit TNI di Lebanon
Pembangunan Rusun di Bantaran Rel Senen Ditargetkan Mulai Mei 2026
Maarten Paes Raih Kiper Terbaik PSSI Awards 2026, Tekankan Pentingnya Kerja Kolektif