CBO Proyeksikan Utang AS Melonjak ke US$64 Triliun dalam Satu Dekade

- Kamis, 12 Februari 2026 | 13:15 WIB
CBO Proyeksikan Utang AS Melonjak ke US$64 Triliun dalam Satu Dekade

Laporan terbaru dari Kantor Anggaran Kongres (CBO) memproyeksikan gambaran keuangan AS yang suram. Utang nasional negara itu diprediksi bakal melonjak hingga menyentuh angka fantastis: 64 triliun dolar AS dalam sepuluh tahun ke depan. Kalau dirupiahkan, angkanya sekitar 1,08 kuintiliun. Jumlah yang sulit dibayangkan.

Nah, pemicu utama dari lonjakan ini adalah defisit anggaran yang diperkirakan naik tajam. Dari 1,9 triliun dolar di tahun fiskal 2026, angkanya bisa melesat ke 3,1 triliun dolar pada 2036. Menurut analisis CBO lembaga nonpartisan yang jadi rujukan Kongres penyebabnya tak lepas dari kebijakan pemotongan pajak era Presiden Donald Trump. Dampak kebijakan itu, rupanya, jauh melampaui pendapatan yang dihasilkan dari tarif baru.

Padahal, beban utang AS saat ini sudah tidak ringan. Posisinya berkisar di 37 triliun dolar. CBO sebelumnya bahkan sudah memperingatkan, utang akan bertambah 20 triliun dolar pada 2033. Prediksi terbaru ini seolah mengonfirmasi bahwa trennya makin parah.

Di sisi lain, Trump sendiri punya cara lain untuk menangani ini. Lewat unggahan media sosial pada Rabu lalu, dia kembali mendesak Federal Reserve untuk memotong suku bunga.

"Amerika Serikat seharusnya membayar jauh lebih sedikit untuk pinjamannya," tulisnya.

Argumennya, langkah itu akan meringankan pembayaran pokok dan bunga utang. Namun begitu, realitanya AS sudah lebih dari dua dekade terperangkap dalam defisit. Terakhir kali mereka mencatatkan surplus anggaran adalah way back in 2001. Sejak itu, pengeluaran selalu lebih besar daripada pemasukan. Tahun demi tahun, lubangnya makin dalam.

Kondisi ini jelas bikin para kreditor waswas. Meningkatnya utang federal akan memaksa pemerintah menerbitkan obligasi Treasury dalam volume besar. Alhasil, investor kemungkinan bakal menuntut imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko gagal bayar yang juga meningkat.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Moody's, salah satu lembaga pemeringkat ternama, sudah menurunkan peringkat kredit AS bulan Mei lalu. Dari Aaa, mereka turunkan satu tingkat jadi Aa1. Ini seperti sinyal lampu kuning bagi pasar keuangan global.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama peringkat AS diturunkan. Moody's hanya yang terbaru. S&P sudah lebih dulu melakukannya pada 2011, disusul Fitch tahun 2033. Polanya berulang, dan proyeksi utang 64 triliun dolar itu mungkin akan membuat sinyal itu bergerak dari kuning ke merah. Masa depan fiskal Amerika, setidaknya menurut angka-angka, terlihat berat.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar