JAKARTA - Setiap anak punya ritme tumbuh kembangnya sendiri. Bagi orang tua, momen-momen ini sangat berharga dan tentu saja, keinginan untuk memberikan yang terbaik selalu ada.
Tapi, ada satu jebakan yang sering tak disadari: jadi terlalu protektif. Apalagi saat si kecil memasuki usia satu sampai dua tahun, di mana mereka seakan tak punya tombol 'off'. Menurut Prof. Rini Sekartini, Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang, sikap overprotektif justru perlu dikurangi pada fase krusial ini.
"Anak aktif itu wajar, bahkan memang harus aktif. Tidak ada istilah hiperaktif pada anak di bawah usia tiga tahun. Kalau anak justru tidak aktif, itu yang perlu dipertanyakan,"
tegas Prof. Rini, Kamis (12/2/2024).
Jadi, jangan buru-buru memberi label. Apa yang orang tua lihat sebagai 'kelebihan energi' seringkali adalah hal yang normal. Malah, sebuah pertanda baik.
Di sisi lain, pada rentang usia tersebut, anak memang sedang gencar-gencarnya bereksplorasi. Mereka akan memanjat, mencoba berlari, belajar naik tangga. Semua gerakan itu bukan tanpa tujuan. Itu adalah cara mereka mengembangkan motorik kasar melatih otot, tulang, dan keseimbangan tubuh.
"Motorik kasar itu melibatkan otot, tulang, dan keseimbangan. Jadi, memang anak tidak boleh jauh dari aktivitas bergerak," jelasnya.
Artikel Terkait
Menteri ESDM Pastikan Stok BBM Nasional Aman, Proyeksi Surplus Solar dengan B50
Presiden Prabowo Berduka, Tiga Pasukan Perdamaian TNI Gugur di Lebanon Selatan
Analis: Ketegangan Selat Hormuz Beri Tekanan Fiskal, Tapi Tak Fatal bagi Indonesia
Pemerintah Tegaskan Harga BBM Tak Naik per 1 April 2026, Pertamina Pastikan Pasokan Aman