Cuaca ekstrem juga jadi perhatian serius. Curah hujan yang tetap tinggi berpotensi memicu banjir di sentra-sentra produksi pangan. Kalau distribusi terganggu, penurunan harga pangan yang sempat terjadi di Januari bisa-bisa berhenti. Situasinya makin runyam karena permintaan komoditas pangan utama pasti naik selama Ramadan, ditambah dengan berlanjutnya program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Ketimpangan pasokan antarwilayah di tengah cuaca yang tak menentu bisa memperburuk keadaan.
Memang, awal 2026 ini inflasi tahunan sudah langsung melesat. Pada Januari lalu, inflasi tercatat 3,55 persen, melonjak jauh dibanding periode sama tahun sebelumnya yang cuma 0,76 persen. Angka ini sekaligus menjadi yang tertinggi dalam 37 bulan terakhir, bahkan sedikit menembus batas atas target Bank Indonesia.
Tapi jangan salah paham dulu. Lonjakan tahunan itu sebagian besar disebabkan oleh low base effect, alias dasar perhitungan tahun lalu yang rendah karena ada diskon tarif listrik. Secara bulanan, justru terjadi deflasi sebesar 0,15 persen. Tren penurunan harga bulanan ini sebenarnya lanjutan dari tahun lalu, didorong oleh normalisasi harga pangan dan biaya transportasi yang kembali ke siklus biasa.
Jadi, gambaran ke depan memang penuh kehati-hatian. Di satu sisi, tekanan deflasi bulanan masih ada. Namun di sisi lain, ancaman inflasi tahunan mengintip dari berbagai faktor, terutama yang bersifat musiman. Semuanya kembali pada bagaimana pengendalian pasokan dan kebijakan pemerintah di lapangan.
Artikel Terkait
Menteri Pertanian: Hilirisasi Kunci Kerek Ekonomi dan Kuatkan Pangan
Analisis MBTI: Lima Tipe Kepribadian yang Sulit Berhenti Beraktivitas
Trump Tunda Serangan ke Iran atas Permintaan Teheran, Beri Waktu 10 Hari untuk Negosiasi
Harga Minyak Tembus USD100, Trump Klaim Dapat Hadiah 10 Kapal Tanker dari Iran