Soal kesehatan bank, kualitas aset adalah indikator krusial. Dan Bank Mandiri berhasil menjaga ini dengan baik. Rasio kredit bermasalah (NPL Gross) mereka di akhir 2025 tercatat 0,96 persen, lebih rendah dari rata-rata industri dan menunjukkan tren perbaikan.
Dari sisi profitabilitas, laba yang diatribusikan kepada pemilik perusahaan mencapai Rp56,3 triliun. Pendapatan bunga bersih menyumbang Rp106 triliun, sementara pendapatan non-bunga juga naik signifikan 14,5 persen menjadi Rp48,5 triliun. Diversifikasi sumber pendapatan ini memperkuat ketahanan fundamental bank dalam jangka panjang.
Riduan menegaskan, pengelolaan aset, likuiditas, dan profitabilitas dilakukan dengan disiplin sebagai fondasi pertumbuhan.
Kontribusi Nyata untuk Program Pemerintah
Sebagai bank BUMN, Mandiri juga aktif mendukung berbagai program prioritas pemerintah. Sepanjang 2025, mereka menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp41 triliun kepada 360 ribu pelaku UMKM. Dukungan juga diberikan untuk program-program seperti Makan Bergizi Gratis, penguatan desa melalui rekening Koperasi Desa, dan Program 3 Juta Rumah.
Tak ketinggalan, program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) juga dijalankan secara masif, dengan lebih dari 1.174 program yang mencakup pemberdayaan ekonomi hingga bantuan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Kontribusi kepada negara juga diberikan dalam bentuk dividen dan pajak. Dividen yang dibagikan pada 2025 mencapai Rp52,5 triliun. Sementara secara akumulatif dari tahun 2000 hingga 2025, kontribusi pajak Bank Mandiri telah menyentuh angka Rp277 triliun, dengan realisasi sekitar Rp27 triliun di tahun lalu saja.
Komitmen pada Keberlanjutan
Isu ESG (Environmental, Social, and Governance) juga mendapat perhatian serius. Portofolio pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri mencapai Rp316 triliun di akhir 2025, dengan porsi pembiayaan hijau sebesar Rp166 triliun. Mereka berkomitmen mencapai Net Zero Emission untuk operasional pada 2030.
Di pilar sosial, perluasan inklusi keuangan terus digenjot. Menariknya, 62,7 persen pengguna Livin’ Merchant adalah pelaku UMKM yang berlokasi di wilayah non-urban. Komitmen ini mendapat pengakuan global, dengan skor ESG Risk Rating dari Sustainalytics mencapai kategori ‘risiko dapat diabaikan’.
Pada akhirnya, semua upaya ini diarahkan untuk menciptakan dampak nyata. Bukan hanya untuk pertumbuhan bank itu sendiri, tetapi lebih luas lagi, untuk ketahanan ekonomi nasional secara menyeluruh.
Artikel Terkait
Kemnaker Perintahkan Pengawasan Ketat untuk Tuntaskan Aduan THR
Justin Hubner: FIFA Series 2026 Ajang Pembuktian Kekuatan Timnas Indonesia
Puncak Arus Balik Lebaran Diprediksi Akhir Pekan, Bakauheni Masih Lancar
Tim Damkar Bogor Evakuasi Biawak dari Plafon Dapur Warga