Di sisi lain, kolaborasi dengan pihak luar dinilai krusial. Kerja sama strategis dengan Jepang, dalam hal ini melalui JICA, diharapkan memainkan peran penting. Kolaborasi ini menggabungkan keahlian teknologi, pengalaman proyek, dan instrumen pembiayaan dari Jepang dengan potensi energi terbarukan dan skala pasar yang besar di Indonesia. Peta Jalan Kemitraan Indonesia-Jepang diharapkan bisa menjadi katalis, mendorong kolaborasi industri yang lebih kuat dengan dukungan pembiayaan publik dan mitigasi risiko di tahap awal.
Senior Representative JICA Indonesia, Akira Sato, melihat ada sinyal positif dari kebijakan pemerintah saat ini. Menurutnya, arah kebijakan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo sudah cukup jelas, dengan fokus pada kemandirian energi dan pangan sambil menjaga stabilitas ekonomi.
Sejalan dengan itu, Kementerian ESDM telah merumuskan RHAN sebagai panduan menuju komersialisasi hidrogen dan amonia. Sementara itu, komitmen JICA untuk mendukung transisi energi Indonesia tetap kuat.
Akira Sato menegaskan kembali komitmen tersebut.
Semua langkah ini menunjukkan bahwa perjalanan menuju ekosistem hidrogen yang matang memang masih panjang. Namun, setidaknya peta jalannya mulai tergambar, dengan target-target awal yang sudah dicanangkan.
Artikel Terkait
93% Pekerja Samsung Setuju Mogok, Pasokan Chip Global Terancam
Perempuan Tewas dalam Kebakaran Gudang di Kulonprogo Saat Keluarga Salat Id
Banjir Rendam Permukiman di Pekayon Saat Idulfitri, Warga Mengungsi
Menteri Keuangan Purbaya Kaji Cara Hidupkan Kembali E-Commerce Lokal